Penyair dan Gembala

angin bergerak menghampiri gembala yang membaca sajak-sajak sepi di sepanjang halaman hari. ia melihat warna hijau di situ tapi bukan hamparan padang rumput yang sehari-hari dipandangnya. ia mendengar suara-suara merdu tapi bukan suara kambing-kambing gembalaannya. ia tak dapat memastikan apakah matanya dapat meyakini setiap warna yang dipandangnya selalu berbeda itu

bertahun-tahun sebelum sajak-sajak itu ada, seorang perempuan muda patah hati berlari di hamparan padang rumput, ratusan mawar luruh dari matanya. tubuhnya mengusung waktu dan wasiat yang sayang sekali tak pernah bisa ia ingat kembali, telinganya dilingkupi bahasa yang asing belaka. di bawah rimbun akasia ia mematut diri “kemarau menghancurkan setiap orang, kemudian beberapa orang bertahan di tanah yang terluka”ia menghirup kata-kata yang kekal, dan menduga ia pun akan kekal setelahnya

sang gembala menutup buku lalu berdiam diri, molekul-molekul udara dari padang rumput itu menyebar ke segala arah kemudian berakhir begitu saja di udara

aroma masakan rumah, derak ranting patah, dan bayang-bayang pohon sepanjang jalan mulai memukau baginya. 

Maret, 2013
Puisi: Penyair dan Gembala
Puisi: Penyair dan Gembala
Karya: Fitri Yani

Baca Juga: Blog Asuransi
Loading...

Post A Comment:

0 comments: