Selamat Tinggal

Kuletakkan kepalaku
sejajar dua dengkulmu

Kau mengangkangi wajahku seperti penyanyi dangdut
aku menyesap semua getahmu serupa babi penurut

Susumu terbuka seperti setengah kubah
kujilat latah seperti mencecap cinta pelupa

Tidak. Tidak. Cium dan cinta
telah kulepas bersama kulit-kulit remajaku

Kulepas pula sisikku, culaku, ekorku dan taringku
agar aku lekas mengelupas kulup upasmu, sayangku

Tapi kau memasang sisikmu, susukmu juga tiga tandukmu
bocah-bocah gundul itu pun mendengung dan merubungmu

Tidak. Tidak. Mereka tak benar menggandrungimu, sayangku
bocah-bocah semprul itu, seperti juga diriku

Adalah begejil manis, begejil lamis
mereka tak gampang kepincut getah iblis

Sebab, seperti aku, dari cangkang keras mereka menetas
mereka lebih mencintai tikus, curut dan cuwut, sebenarnya

Dan tentu berpura-pura memujamu sekadarnya, kau
yang kadung mengangkang bagai dewi balak tujuh itu

Alamak, kenapa kau bayangkan diri bagai berhala begitu?
sedang mereka telah menyaru sebagai tuhan-tuhan tengil

Seperti semut-semut geramang yang mabok kepayang
dan bergandengan meninggalkan ciut lubang.

2015
Puisi: Selamat Tinggal
Puisi: Selamat Tinggal
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi tentang Burung Perkutut
Loading...

Post A Comment:

0 comments: