Surat untuk Ibu Pertiwi (1)

ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun
dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan.
bikin daku hendak jadi ksatria.

jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun
nyiur di depan rumah kita itu.

ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan
lagu: kami jadi pandumu...

ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak
dulu.

ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang
padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.

tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa
ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak
menggubris petuahmu.

ujarmu:"hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu.
berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain..."

ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain
mungkin masih mengigatnya juga, ibu.

di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi
tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat
pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang
bercakapan.

di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan
benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata.
kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk
pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu.

begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup...

dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan
apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan
menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari
tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat
anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata...

ya, ibu, aku rasakan itu

kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu
yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang
begitu menakutkan!

dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu...


Surat untuk Ibu Pertiwi (2)

jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.
jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?

jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?

kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan
begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering
mengganggu kami.

ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?

dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu
mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih
banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.

jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu...

baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?

Malang, 21 Maret 1995
Puisi Surat untuk Ibu Pertiwi
Puisi: Surat untuk Ibu Pertiwi
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Puisi Derita Anak Palestina
Loading...

Post A Comment:

0 comments: