Pada Sebuah Taman
– buat Gus Dur

pada sebuah taman engkau duduk sendiri. memandang rerumput hijau
rimbun bunga, tiang-tiang lelampuan. juga segerombol anak kecil yang berlarian
membaca sketsa negeri. tapi beberapanya malah memilih untuk mencabuti rumput, bahkan yang tidak kering. lalu menginjak-injaknya. dan kau tersenyum,
“matahari masih bundar,” ucapmu. agak parau menahan pahit
kenyataan. sembari mengingat symphoni no. 5 in c minor dari beethoven. juga beberapa baris puisi.
semestinya, ada kicau burung parkit dari reranting. tapi di atas, langit murung
mendung tertenung. “ah, hujan akan turun,” gumammu
sembari menghilangkan para pembisik dari kepalamu


lalu kaupun teringat pada hujan yang turun di muka tahun itu, seperti kau kenal
sebagaimana gambar buram kartu pos yang nyengat dingin
menghapus genang kemarau, membasuh debu-debu, menyabik
kulit tubuh. kita jadi kena teluh
“sudah berapa lama kita hilang hari?” apabila mimpi
tiba-tiba beranjak pergi, serupa kelokan-keloka
yang terendam di halaman depan

suatu hari nanti,
kau akan turut serta denganku
jalan entah kemana. menyimpan nama, tanda, sekaligus
cuaca yang pernah ada

ketika itu, aku sedang merapikan sepotong malam
yang jatuh di halaman
kudapati senyummu yang mengambang. di atas tanah,
berkisah daun-daun rebah
barangkali di sebuah taman yang lama kaukenal
yang sempat akrab di di gigir waktu terlambat

dan kau menata langkah, sembari menuntun segerombol anak kecil
ingin kaumembelikan mereka es krim sekadar mengobati tahun-tahun lama
yang pucat. namun yang kauucapkan,
“pulanglah anak-anak. lebih baik kembali ke rumah. hangat dan rapat. sebentar lagi
hujan tiba,”

pada sebuah taman
engkau masih saja duduk sendiri
langit masih mendung
angin basah
gerombolan anak kecil telah lama pulang
matamu berkaca
entah buat siapa

2010
Puisi Pada Sebuah Taman
Puisi: Pada Sebuah Taman
Karya: Alex R. Nainggolan

Baca Juga: Puisi Senyuman Terindah

Post A Comment:

0 comments: