Jangan

Atas nama apa saja. Jangan melepas burung-burung
di Jakarta. Jangan melepas burung-burung di angkasa
Jangan! Janganlah nyawa satwa ditebar di udara
Yang gelap. Abu-abu. Wajah muram kotamu

Sudah lama. Betapa sulit menanti langit terang bercahaya
Ruang bersih dan tanpa debu. Tapi asap itu
Melengkapi neraka metropolitan ini. Menjauhkan
semua yang asri. Taman bukan lagi taman

Pohon bukan lagi pohon. Bunga bukan lagi bunga
Juga manusia penghuni setia. Sudah lama tanpa langit biru
Udara kotor. Tanpa warna-warni awannya. Matahari merah jingga
Tak lagi menghiasi panorama. Di bawah derasnya lalu lintas

Kemacetan yang membangkitkan hati sumpek! Langit itu juga
Yang biasa memberi hiburan barang sejenak. Terhenyak
Ketika tubuh ini loyo. Dan HP berdering terus. Pesan dan Bos
Pesan dari istri di rumah. Pesan mesra dari pacar simpanan

Atas nama siapa saja. Welas asih dan cinta satwa. Jangan —
Jangan melepas burung-burung di Jakarta. Jangan, Jangan
Kalau engkau tega. Kalau engkau tidak mau melihat di atas sana
Tubuh-tubuh berjatuhan. Tubuh-tubuh bergelimpangan

Memasuki rimba segala rimba.
Belantara Dan semak berduri kota. Keganasan dan kelewang menghadang
Bergumul manusia dan satwa. Atau Sahara jiwa
Mondar-mandir manusia batu!

Jakarta 15-16 November 1997
Puisi: Jangan
Puisi: Jangan
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi karya Sunaryono Basuki KS

    Post A Comment:

    0 comments: