Puisi: Sajak-sajak, Wesel untuk Ummi (Karya Hamid Jabbar)

Sajak-sajak, Wesel untuk Ummi

(I)
Sebelum awan luruh jadi duri, aku harus pergi.
Entah kemana, memang,
ya kalau pun aku tetap disini, begini dan selalu saja begini:
awan tetap tidak bias dihalang, ya Ummi.

Tinggal atau pergi, awan begitu pasti
(cepat atau lambat)
'kan membanjiri luka kekang ini,
o luka kekang ini, ya Ummi.

Maka lepaslah bujang-pincangmu ini, o Ummi, lepaslah.
Bukan mengelupas kecintaan ini, ya Ummi,
bukan itu soalnya. Ada yang harus segera dijelang: sawah
dan persemaian terlunta-lunta, menunggu dan resah.

(Kita sama-sama maklum lumbung di depan anjung
berbulan berbilang tahun mengandung
duka: ada arang di dinding dan kelam terkaca,
racun menuba, ah Ummi, kita punya rona!)

Ummi, lepaslah anakmu meneruka kembali jalan kembali
dengan ikhlas, ya Ummi, bekalkan anakmu
dengan doamu khusyuk di kalbu: merambah menyemai
tumbuh memberi arti, ya Ummi.

(Dan bila rindu Ummi tidak tertahankan, sebut hamid
pelan-pelan dalam doa Ummi pelan-pelan
hingga padaku rindu itu pun tidak tertahankan, ah Ummi
bagaimana caranya memendam kecengengan..)

(II)
Seperti kisah-kisah zaman dahulu, "Karatau madang di hulu,
berbuah berguna belum. Merantau
bujang dahulu, di rumah berguna belum." Dan lindap terasa
matahari di ubun-ubunku. Harapan menderu.

Seperti kisah-kisah zaman dahulu, nasihat-nasihat Ummi
berpantun bersati-sati, suara bunda
sepanjang masa, sederhana tanpaknya, namun gemanya
sampai kelekuk luka-luka kembaraku ...

"Dengan Bismillah Ummi mulai
semoga dibuka Ilahi Rabbi
hati anakku yang terkunci
mengamalkan yang berarti"

Manusia makhluk tertinggi
diberi akal diberi hati
Sehala sesuatu harus dipikiri
pikir itu pelita hati Teliti
sebelum memulai buruk baik 'kan
mengikuti. Lihatlah segala segi
agar tak menyesal nanti. 
Sedetik tak disadar-hayati
berjuta tangis amat nyeri

"Pikir renungi semua ini
jadi pedoman sepanjang hari
Camkan nak, camkan buah
hati
Agar selamat dilindungi
Ilahi"

Sembahlah Allah, sembah
lah. Hanya Allah, pada-Nya
lah berpulang segala
sembah. Jangan duakan,
jangan tigakan biar dipaksa
biar ditekan: Itulah dosa tak
kenal ampunan. Dunia tak
lama 'kan dihuni nikmatilah
rahmad Ilahi. Selagi hidup
dibumi ini haruslah kita
kasih mengasihi"

"Jauhkan benci membenci
karena benci adalah duri.
Camkan nak, camkan buah hati
camkan segala nasihat ibu"

(III)
Duh Ummi,
terbayang engkau du jenjang Rumah Gadang, sendiri
saat petang tertatih dating, berputih mata, sendiri
dalam genangan mengaca, gelisah menua dalam derita.
Duh Ummi,
aku masih saja berjalan dan kehilangan jalan dalam sekian
jalan,
menggapai tak sampai, meratap nyaris kehilangan derap.
Laut sakti!
rantau bertuah,
mimpi terpuruk.
Samar membenam,
tangkap melepas
iman melapuk.

Duh Ummi,
akulah "bujang gadang karengkang" yang terlelap: mengerang.
Duh Ummi,
akulah pendekar kehilangan medan dan kena tembakan:
luka-luka dalam lakuku.
Duh Ummi,
akulah sang penggigil gugup merangkum kata dan makna:
ganjil dan kerdil.
Duh Ummi,
akulah anakmu yang menuliskan tangis tentangmu, ya Ummi:
Berjuta menggelembung dalam rahimmu
Antara sayapnya kelam dan berjuta mimpi
Darah mengalir nanah membarah denyut nyeri
Keluh membanjir, membanjir dan membanjir
Dan desah
Al-Fatihah ..

(IV)
Demikianlah, ya Ummi, semua ini diam-diam menyelinap dalam
sajak-sajakku. Mereka kutampung dengan rasa tak berdaya serta senyum
luka-luka, ya Ummi. Tetapi kurasa ada yang lebih daripada yang kutahu
dan tak ada kata-kata yang menampung segalanya.

Demikanlah, ya Ummi, kukirim ini diam-diam ke dalam tidur dan
mimpimu, kedalam jaga dan sunyimu, biarlah, ah semoga mereka menjadi
sesuatu yang lebih daripada senyum dan luka-luka kita, ya Ummi.

Padang, 1974-1978
Puisi: Sajak-sajak, Wesel untuk Ummi
Puisi: Sajak-sajak, Wesel untuk Ummi
Karya: Hamid Jabbar

Baca Juga: Sajak karya Ramadhan K.H.

0 Response to "Puisi: Sajak-sajak, Wesel untuk Ummi (Karya Hamid Jabbar)"

Posting Komentar

close