Puisi: Pelukis Affandi di Pasar Vittoria (Karya Ajip Rosidi)

Puisi "Pelukis Affandi di Pasar Vittoria" karya Ajip Rosidi menggambarkan sebuah momen kehidupan yang penuh warna dan nuansa budaya yang kental.
Pelukis Affandi di Pasar Vittoria

Dengan jaket hitam
dan topi merah dari wolita
ia berjalan menyelinap
sambil makan buah ceri
di Pasar Vittoria, Roma,
bulan Juni 1972.
Hari masih pagi.

Seorang pedagang memberi salam
karena mengia ia orang Cina:
dipujinya Mao
dengan ibu-jari diacungkan tinggi.
Affandi tertawa, dan dengan jenaka
ditawarnya sehelai jas musim-dingin
dengan harga yang dibanting.

Tapi pedagang Italia
memberi salam bukan mau rugi
dia hanya tertawa dan berkata:
"Cina tidak baik
jika menawar serendah itu!"
dan ditunjukkannya kelingking kiri.

Affandi hanya tertawa
karena ia bukan Cina.

1972

Sumber: Ular dan Kabut (1973)

Analisis Puisi:

Puisi "Pelukis Affandi di Pasar Vittoria" karya Ajip Rosidi menggambarkan sebuah momen kehidupan yang penuh warna dan nuansa budaya yang kental. Melalui puisi ini, Rosidi tidak hanya mengabadikan sebuah peristiwa, tetapi juga menyampaikan pesan tentang interaksi manusia dengan budaya dan humor yang ada di dalamnya. Dalam puisi ini, pelukis ternama Indonesia, Affandi, menjadi tokoh utama yang dihadirkan dalam sebuah skenario yang mengundang senyum dan makna lebih dalam.

Momen Pertama: Pagi di Pasar Vittoria, Roma

Puisi ini dimulai dengan gambaran seorang pria yang tampaknya sedang menikmati pagi di Pasar Vittoria, Roma, pada bulan Juni 1972. Affandi, dengan jaket hitam dan topi merah, tampak menyelinap di tengah hiruk-pikuk pasar sambil makan buah ceri. Gambar ini membawa kita seakan-akan berada di tengah pasar yang penuh dengan aktivitas, merasakan segarnya udara pagi di Roma, serta meresapi suasana pasar yang begitu khas dengan pedagang dan pengunjung yang saling berinteraksi.

Penciptaan suasana ini menambah dimensi hidup pada puisi ini, seolah kita bisa merasakan langkah kaki Affandi yang ringan dan penuh keberanian. Affandi, seorang pelukis yang terkenal dengan gaya ekspresionisnya, seakan menemukan momen kebebasan dan keseharian dalam sebuah pasar yang ramai. Ini adalah bagian yang membawa puisi ini menjadi sangat hidup dan menyentuh kita sebagai pembaca.

Interaksi Antarbudaya: Humor dan Perbedaan

Salah satu elemen yang paling menarik dalam puisi ini adalah interaksi antara Affandi dan pedagang pasar. Ketika seorang pedagang memberi salam kepada Affandi, ia memujinya sebagai orang Cina, sebuah identifikasi yang membawa perbedaan budaya dan persepsi. Dalam balasannya, pedagang tersebut dengan penuh semangat mengangkat ibu jarinya dan memuji Mao, figur sentral dalam sejarah Tiongkok, yang membuat suasana ini semakin berwarna. Ada kekaguman dari pedagang tersebut terhadap Mao, yang dianggapnya sebagai simbol kekuatan dan kemajuan.

Namun, Affandi tidak tinggal diam. Dengan jenaka, ia membalas tawaran pedagang itu dengan harga yang sangat rendah, seolah-olah menantang kebiasaan tawar-menawar yang terjadi dalam pasar tersebut. Tindakan Affandi ini memperlihatkan sisi humoris dari dirinya yang tidak hanya seorang pelukis, tetapi juga seseorang yang bisa mengapresiasi budaya dan kebiasaan yang ada di sekitarnya dengan cara yang ringan dan penuh tawa.

Konflik kecil ini terjadi ketika pedagang Italia, yang mungkin tidak memahami lelucon tersebut, menjawab dengan tertawa dan menunjukkan bahwa orang Cina, dalam pandangannya, tidak seharusnya menawar serendah itu. Dengan mengacungkan kelingking kiri, pedagang itu menunjukkan bahwa ada kode sosial atau budaya tertentu yang berlaku, yang sering kali dapat dipahami oleh mereka yang berasal dari latar belakang yang sama.

Pesan Tersirat: Budaya dan Identitas

Puisi ini tidak hanya menggambarkan pertemuan antara dua budaya yang berbeda, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami dan menghargai perbedaan dalam kehidupan sosial. Dalam setiap kata dan situasi yang diciptakan oleh Rosidi, terdapat unsur humor yang mengundang tawa, namun di balik tawa itu tersimpan juga pemahaman yang lebih dalam tentang identitas, stereotip, dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.

Ketika pedagang Italia menyebut Affandi sebagai orang Cina, meskipun ia bukanlah orang Cina, hal ini mencerminkan bagaimana masyarakat seringkali memberi label kepada orang lain berdasarkan penampilan fisik atau latar belakang budaya mereka. Affandi, yang tertawa atas kejadian ini, menunjukkan sikap lapang dada dan kebebasan berpikir, seolah-olah mengingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada prasangka dan untuk menikmati momen yang ada tanpa terlalu serius memikirkannya.

Akhir yang Menggugah: Makna Tawa Affandi

Pada akhirnya, dalam puisi ini, tawa Affandi menjadi simbol kebebasan dan pengertian yang mendalam terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya. Tawa itu bukan hanya tawa atas lelucon yang terjadi, tetapi juga tawa yang menunjukkan bahwa kita tidak perlu terjebak dalam pemikiran yang sempit dan penuh prasangka. Affandi menunjukkan bahwa meskipun ada kesalahpahaman, humor dan kedewasaan dalam menghadapi perbedaan budaya adalah cara yang cerdas dan bijaksana untuk menjalani kehidupan.

Puisi "Pelukis Affandi di Pasar Vittoria" karya Ajip Rosidi menawarkan lebih dari sekadar gambaran tentang pertemuan antara pelukis Indonesia dan pedagang pasar Italia. Ini adalah sebuah kisah tentang identitas, perbedaan budaya, dan bagaimana kita bisa memandang dunia dengan cara yang lebih lapang dan penuh senyum. Melalui humor yang sederhana namun dalam, Rosidi berhasil menyampaikan pesan penting tentang memahami orang lain, menghargai keberagaman, dan merayakan kehidupan dengan segala keunikannya.

Puisi Ajip Rosidi
Puisi: Pelukis Affandi di Pasar Vittoria
Karya: Ajip Rosidi

Biodata Ajip Rosidi:
  • Ajip Rosidi lahir pada tanggal 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.
  • Ajip Rosidi meninggal dunia pada tanggal 29 Juli 2020 (pada usia 82 tahun) di Magelang, Jawa Tengah.
  • Ajip Rosidi adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.