Kabar Lamat dari Perbatasan Serbia
Kubaca Butmir Bosnia di Marek,
dalam sebuah suratkabar Amerika
selesai dirajam airmata sepi,
empat puluh kilometer
dari liang dukana.
Saat seorang perempuan muda
menelan dirinya dalam kamp isolasi
menerima japah
empat milisi di sini berhari-hari
walau arloji sengsara
alpa mengingatnya.
Sejenak bayinya
menghabiskan zahrah tangis
karena digerus gigil
pesme cedera kepak.
Lalu bertanya: "Boleh kususui
anak ini?"
Ah, diam mencambuk
teka-teki atas kehendak.
Ditanyai kembali: "Boleh kudodoi
bayiku ini?"
Kemudian seorang milisi
melamangkan leher anaknya itu
bagaikan tiba gada sangkakala
menyertai sakral dirobek gasal:
"Nih, susui dan dodoilah."
Beku pun kalah
disarungkan sabung waktu
menyeret dirinya
ke sisi suami kaku kelu
sehari sebelum didampingi
bocah mereka tanpa lagi kepala.
Dan neraka kian disapih
sekejap berlalu dibawa empat peluru
membangunkan alam dan menyangkal gandin
pohon kostanye mengayunkan
tubuh si perempuan bersimbah rebah,
dibarut rintih salju.
Analisis Puisi:
Tema utama puisi ini adalah penderitaan akibat perang dan kekejaman kemanusiaan. Puisi ini merekam tragedi kemanusiaan di kawasan Balkan, khususnya kekejaman yang terjadi di Bosnia dan Serbia saat konflik berkecamuk di era 1990-an.
Makna Tersirat
Di balik deskripsi tragis dan brutal yang ditampilkan, puisi ini menyiratkan betapa perang tidak pernah benar-benar membawa kemenangan, melainkan hanya menyisakan luka, kehilangan, dan duka yang mendalam. Lewat kisah seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, kehilangan anak dan suami, hingga akhirnya mati dalam kesunyian dan ketidakadilan, puisi ini menyuarakan jeritan diam dari korban perang yang tak pernah punya cukup ruang untuk berbicara.
Makna lain yang tersirat adalah potret kebrutalan milisi yang menanggalkan kemanusiaan mereka sendiri, menjadikan tubuh perempuan sebagai medan perang, dan menutup semua pintu harapan bagi generasi berikutnya.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan muda Bosnia yang mengalami kekerasan brutal di tengah konflik bersenjata. Dalam kondisi terisolasi di kamp milisi, ia diperkosa oleh empat orang milisi secara berulang, hingga melahirkan bayi yang kemudian dibunuh dengan kejam di hadapannya. Suaminya pun tewas sebelumnya, dan pada akhirnya sang perempuan pun menemui ajalnya dengan tragis, digantung di pohon kostanye.
Puisi ini tidak hanya menceritakan kisah pribadi, tetapi juga merepresentasikan nasib ribuan perempuan yang mengalami kekejaman serupa di berbagai konflik dunia.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini sangat kelam, pilu, mencekam, dan penuh rasa ngeri. Nuansa duka yang dingin mengisi setiap larik, menampilkan kengerian perang yang membungkam suara kemanusiaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan puisi ini adalah perang selalu menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam perang, perempuan dan anak-anak menjadi korban paling rentan. Puisi ini menegaskan pentingnya mengingat tragedi semacam ini agar tidak terulang kembali. Lewat puisi ini, Zakaria M. Passe juga mengajak pembaca merenungkan kembali apa arti keadilan, kehormatan, dan kemanusiaan dalam pusaran kekuasaan dan kekerasan.
Imaji
Puisi ini dipenuhi imaji visual dan emosional yang sangat kuat, di antaranya:
- Perempuan yang menelan dirinya dalam kamp isolasi — gambaran keterpaksaan, ketidakberdayaan.
- Bayinya yang menangis digerus gigil — imaji penderitaan bayi yang tidak berdosa.
- Leher anak yang dilamangkan seperti gada sangkakala — kekejaman yang brutal dan tanpa ampun.
- Tubuh perempuan tergantung di pohon kostanye — imaji kematian tragis yang melukiskan betapa dingin dan kejamnya dunia.
Majas
Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini:
- Metafora: “menelan dirinya” melambangkan keterpaksaan menerima nasib buruk.
- Personifikasi: “diam mencambuk teka-teki atas kehendak” — diam yang diperlakukan seperti pelaku aktif.
- Simile: “leher anaknya bagaikan tiba gada sangkakala” — menyamakan eksekusi brutal dengan bunyi akhir dunia.
- Hiperbola: “neraka disapih sekejap” — melebih-lebihkan penderitaan yang datang begitu cepat dan menyeluruh.
Puisi “Kabar Lamat dari Perbatasan Serbia” karya Zakaria M. Passe adalah puisi yang merekam luka sejarah dan jeritan perempuan korban perang di Bosnia. Melalui citra kekerasan yang gamblang serta simbol-simbol tragis seperti salju, kostanye, dan peluru, puisi ini tidak sekadar berbicara tentang satu tragedi, melainkan tentang wajah gelap perang yang selalu berulang di sepanjang sejarah manusia.
Zakaria M. Passe mengajak pembaca mengingat bahwa di balik setiap konflik, ada tubuh-tubuh yang dipaksa menjadi arena pertempuran, dan ada suara-suara yang dipaksa bungkam bahkan setelah kematian. Sebuah puisi yang menjewer kesadaran kita tentang pentingnya merawat kemanusiaan, bahkan di tengah ketegangan dan kekuasaan yang saling berhadap-hadapan.
Karya: Zakaria M. Passe
Biodata Zakaria M. Passe:
- Zakaria M. Passe lahir pada tanggal 1 Juni 1942 di Langsa, Aceh Timur.
- Zakaria M. Passe meninggal dunia pada tanggal 8 November 1998 (pada usia 56 tahun) di Jakarta.