Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Jemputan (Karya Hasbi Burman)

Puisi "Jemputan" karya Hasbi Burman bercerita tentang fase-fase dalam perjalanan manusia atau masyarakat yang seolah dijemput oleh takdir untuk ...
Jemputan

Pada jemputan selanjutnya
Angin bergerak
Memoles wajah laut
Sebuah pelayaran
Di atas menempel bulan tembaga

Jemputan demi jemputan
Kereta kencana tersungging
Mengulurkan senyuman
Bara api
Yang membakar langit-langit
Dan kelambu para pengungsi

Bakaran-bakaran adalah abu harta benda
Yang mengisi masa lampau
Yang mereka tinggal 
Dalam sejarah peradaban.

18 Febuari 2005

Analisis Puisi:

Puisi “Jemputan” karya Hasbi Burman merupakan karya kontemporer yang padat dengan metafora dan simbolik historis. Melalui larik-larik puitisnya, penyair merangkai gambaran tentang waktu, tragedi, dan perjalanan sejarah dengan cara yang halus namun menggugah. Meski secara eksplisit tidak menyebut satu peristiwa pun, puisi ini menyiratkan sebuah refleksi atas siklus peradaban yang diwarnai oleh kehancuran, pengungsian, dan pelayaran takdir.

Tema

Puisi ini mengangkat tema kehancuran peradaban dan siklus sejarah yang terus berulang. Hasbi Burman menyampaikan bagaimana setiap “jemputan” menjadi momen penting dalam pergerakan zaman, tetapi kerap diiringi oleh penderitaan, kerusakan, dan kehilangan. Tema ini juga menyentuh soal identitas, memori kolektif, dan pengusiran paksa dari ruang kehidupan manusia.

Puisi ini bercerita tentang fase-fase dalam perjalanan manusia atau masyarakat yang seolah dijemput oleh takdir untuk menghadapi berbagai peristiwa besar—baik pelayaran, perpindahan, pengungsian, maupun kehancuran. Jemputan bukan sekadar ajakan, tetapi bisa menjadi pertanda datangnya perubahan besar, yang terkadang menakutkan: kereta kencana, bara api, hingga kelambu pengungsi menggambarkan pergeseran nasib dari kemuliaan menuju penderitaan.

Ada nuansa tragedi sejarah dan eksodus dalam larik-lariknya. Penyair menyuguhkan gambaran bencana yang memaksa manusia meninggalkan harta benda, masa lalu, dan bahkan peradaban itu sendiri.

Makna Tersirat

Secara tersirat, puisi ini menyampaikan pesan bahwa sejarah peradaban manusia dipenuhi oleh siklus kehancuran dan kebangkitan, dan bahwa “jemputan” bisa menjadi simbol dari:
  • Peristiwa besar atau transformatif — baik itu penjajahan, peperangan, bencana, atau perpindahan sosial.
  • Keharusan manusia meninggalkan zona nyaman dan menghadapi realitas baru yang mungkin menyakitkan.
  • Kerapuhan peradaban — sekuat apa pun tatanan dibangun, ia bisa berubah menjadi abu karena bara yang “membakar langit-langit dan kelambu para pengungsi”.
Makna tersirat lainnya adalah pengingat agar manusia tidak melupakan sejarah, sebab abu-abu masa lalu masih bertebaran dan mengisi ruang ingatan peradaban.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini muram dan penuh ancaman, seperti bayangan menjelang kehancuran. Ada ketegangan di balik gambaran “bara api”, “pengungsi”, dan “abu harta benda”. Namun, di saat yang sama, terdapat semacam ketenangan simbolik dalam pelayaran yang “di atas menempel bulan tembaga”—seolah menyiratkan bahwa dalam kehancuran pun, ada takdir yang harus dijalani dengan pasrah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat atau pesan dari puisi ini antara lain:
  • Setiap peradaban punya masa jaya dan masa hancur; kita harus belajar dari sejarah.
  • Manusia harus siap menghadapi jemputan takdir, baik berupa peluang maupun tragedi.
  • Pengungsian bukan hanya fisik, tapi juga spiritual—dari kenangan dan luka yang tidak pernah selesai.
  • Perubahan besar sering datang dengan pengorbanan dan kehilangan.

Imaji

Hasbi Burman menggunakan imaji visual yang kuat untuk menyampaikan makna puisi. Beberapa imaji mencolok dalam puisi ini meliputi:
  • “Angin bergerak / Memoles wajah laut” → menghadirkan imaji alami yang tenang, menggambarkan awal dari suatu pergerakan besar.
  • “Bulan tembaga” → menciptakan suasana asing sekaligus magis, menggambarkan pelayaran menuju tempat yang tidak dikenal atau takdir yang tidak pasti.
  • “Kereta kencana tersungging / Mengulurkan senyuman” → memunculkan gambaran simbolik kemegahan yang ironis, karena menyusulnya adalah “bara api”.
  • “Bara api / Yang membakar langit-langit / Dan kelambu para pengungsi” → imaji ini sangat kuat menggambarkan kehancuran fisik dan penderitaan manusia akibat perang atau bencana.
  • “Bakaran-bakaran adalah abu harta benda” → menggambarkan sisa-sisa peradaban yang hancur, tinggal abu, penuh kehampaan dan kenangan.

Majas

Puisi ini kaya dengan majas, terutama:

Personifikasi
  • “Angin bergerak / Memoles wajah laut” → laut diperlakukan seperti wajah yang bisa dipoles, menunjukkan kedekatan emosi dengan alam.
Metafora
  • “Jemputan” sebagai metafora dari peristiwa besar yang menghampiri manusia (bisa berarti kematian, peperangan, bencana, atau sejarah).
  • “Kereta kencana” dan “senyuman” sebagai lambang kedatangan perubahan besar yang tampak indah di permukaan, namun membawa kehancuran.
Hiperbola
  • “Bara api / yang membakar langit-langit” → melebih-lebihkan efek kebakaran, untuk menunjukkan intensitas penderitaan dan kehancuran.
Simbolisme
  • “Bulan tembaga” → bisa melambangkan waktu senja dalam sejarah, atau sesuatu yang tak biasa, indah namun berbahaya.
Penggunaan majas-majas ini memberi kekuatan estetika sekaligus menegaskan kedalaman makna yang ingin disampaikan penyair.

Puisi "Jemputan" karya Hasbi Burman adalah puisi pendek yang dalam dan reflektif. Ia tidak berbicara secara langsung, tetapi justru memikat lewat simbol dan imaji yang menggugah. Puisi ini adalah renungan tentang perjalanan sejarah, kehancuran, dan perpindahan, yang mengajak pembacanya untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam arus peradaban yang kerap mengorbankan manusia dan makna.

Di dunia yang terus berubah, di mana jemputan bisa datang sewaktu-waktu—baik dalam bentuk bencana, perang, atau perubahan zaman—puisi ini mengingatkan kita akan satu hal: dalam abu sejarah, tersimpan kisah manusia yang tak boleh dilupakan.

Hasbi Burman
Puisi: Jemputan
Karya: Hasbi Burman

Biodata Hasbi Burman:
  • Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.