Puisi: Di Tengah Rumah (Karya Goenawan Mohamad)

Puisi "Di Tengah Rumah" karya Goenawan Mohamad mengajak pembaca merenungkan ketidakpastian hidup dan perlunya pencarian makna di tengah kekacauan.
Di Tengah Rumah

Di tengah rumah kaubaca sajak
Amir Hamzah
Di ujung jalan
Orang-orang berlari
Dalam darah

Kota telah jatuh
Sebuah Phnom-penh lain patah
Dan dibunuh
Sejak itu
Kau menunggu
Seseorang yang akan
Bercerita tentang sorga
& senja, tahun 2000

Atau menyurat
Dengan jari
Pada jalusi jendela
Dan debu pagi

Di tengah rumah kaubaca lagi
Amir Hamzah
Di luar datang asap
Dari jalan
Yang tak mengharap

Dan hutan hendam-karam, di kejauhan
Dan malam mengigau
Dalam gerimis
Yang tak kelihatan

Sumber: Horison (Februari, 1986)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Tengah Rumah" karya Goenawan Mohamad menampilkan ciri khas penyair yang peka terhadap situasi sosial, pengalaman historis, dan refleksi eksistensial manusia. Dengan bahasa yang ringkas namun padat simbolisme, Goenawan membangun atmosfer yang melankolis dan kontemplatif, sekaligus menyisipkan kesadaran kritis terhadap realitas dunia.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perang, kehancuran, dan kerinduan akan kedamaian. Puisi ini juga menyinggung tema persepsi manusia terhadap sejarah dan trauma kolektif, di mana peristiwa kekerasan mempengaruhi kesadaran individu dan masyarakat. Selain itu, ada tema harapan dan pencarian makna, terlihat dari keinginan seseorang untuk mendengar kisah tentang sorga dan senja di tengah dunia yang kacau.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di tengah rumah, membaca puisi Amir Hamzah, sambil menyaksikan kehancuran di luar—kota yang jatuh, darah yang mengalir, dan asap yang membumbung dari jalan. Narator atau tokoh yang ada di dalam rumah mencoba mencari penghiburan atau pengetahuan, menantikan cerita tentang keindahan atau kedamaian (sorga dan senja) di tengah kekacauan. Adegan ini menekankan kontras antara ruang pribadi dan kehancuran dunia luar, serta usaha manusia untuk menemukan ketenangan dalam pengalaman estetis dan intelektual.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan ketidakpastian hidup, trauma sejarah, dan pencarian makna dalam kekacauan. Kehadiran “Phnom-penh lain” menyinggung tragedi historis, mengaitkan peristiwa personal dengan peristiwa kolektif yang lebih luas. Puisi ini juga menyiratkan kesenjangan antara harapan manusia akan kedamaian dan kenyataan kehancuran yang terus berlangsung. Menyurat dengan jari pada jalusi jendela dan debu pagi bisa diartikan sebagai usaha manusia meninggalkan jejak atau mencoba berkomunikasi dalam situasi yang serba terbatas.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung melankolis, penuh ketegangan, dan kontemplatif. Ada kontras yang kuat antara ketenangan membaca puisi di dalam rumah dan kekacauan yang terjadi di luar: darah, kota yang jatuh, asap, dan hutan yang “hendam-karam”. Malam yang mengigau dan gerimis yang tak kelihatan memperkuat atmosfer muram dan introspektif, menghadirkan nuansa hening yang sarat refleksi terhadap dunia yang rapuh.

Imaji

Goenawan Mohamad menggunakan imaji visual dan sensorik yang kuat untuk memperkuat pengalaman membaca:
  • “Orang-orang berlari dalam darah” → imaji kekerasan dan kehancuran.
  • “Kota telah jatuh, sebuah Phnom-penh lain patah dan dibunuh” → imaji historis dan destruktif yang meluas.
  • “Menyurat dengan jari pada jalusi jendela dan debu pagi” → imaji personal dan intim, menggambarkan usaha manusia mengekspresikan diri dalam keterbatasan.
  • “Hutan hendam-karam, di kejauhan” → imaji alam yang menambah kesan muram dan misterius.

Majas

Beberapa majas yang dapat dikenali dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: Kota yang jatuh dan darah yang mengalir sebagai metafora kehancuran dan penderitaan manusia.
  • Personifikasi: Malam yang “mengigau” memberikan sifat manusia pada malam, sehingga menciptakan kesan hidup namun menakutkan.
  • Repetisi dan paralelisme: Pengulangan “di tengah rumah kaubaca ...” menekankan ritme pembacaan dan kontras antara ruang internal dan eksternal.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya refleksi dan kesadaran dalam menghadapi dunia yang kacau, serta perlunya menjaga ruang pribadi untuk merenung dan mencari makna di tengah kehancuran. Puisi ini juga menekankan kesenjangan antara realitas brutal di luar dan kebutuhan manusia akan estetika, pengetahuan, serta kedamaian batin.

Puisi "Di Tengah Rumah" karya Goenawan Mohamad adalah karya yang memadukan kritik sosial, refleksi eksistensial, dan kekayaan imaji puitis. Melalui tema kehancuran, trauma sejarah, dan pencarian kedamaian, puisi ini mengajak pembaca merenungkan ketidakpastian hidup dan perlunya pencarian makna di tengah kekacauan. Majas, imaji, dan suasana yang diciptakan memperkuat pengalaman emosional dan reflektif, menjadikan karya ini salah satu contoh kuat puisi modern Indonesia yang menggabungkan estetika dan kesadaran sosial.

Puisi Goenawan Mohamad
Puisi: Di Tengah Rumah
Karya: Goenawan Mohamad

Biodata Goenawan Mohamad:
  • Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
  • Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.