Kisah Siabang Hilang
Ibu, jangan tangisi abang
yang hilang di negeri seberang
jangan bertanya:
adakah cinta di sana?
jangan pula sendu
jika ia tidak mau
berumah dalam hatimu
Kita tiada punya airmata
buat dia yang setia berkata:
Betapa ingin
matiku ditetapkan di lembah lain
1956
Analisis Puisi:
Tema utama puisi adalah kehilangan dan pilihan eksistensial — tentang seseorang yang memilih hilang di “negeri seberang” dan menolak kembali atau berumah di hati yang menunggu. Ada unsur pengorbanan diri dan penolakan terhadap sentimentalitas yang menyembunyikan kebenaran pilihan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seorang abang (siabang) yang menghilang ke negeri seberang. Penyair memberi pesan kepada ibu (perwakilan keluarga/akar) agar tidak menangisi atau bertanya apakah ada cinta di tempat yang dituju. Narator menegaskan bahwa si abang tidak mau “berumah dalam hatimu”; ada keinginan radikal — “matiku ditetapkan di lembah lain” — yang menunjukkan keputusan permanen untuk menetap atau berakhir jauh dari asal.
Makna tersirat
Beberapa makna tersirat penting:
- Kemandirian radikal atau pembangkangan: Kehilangan bukan sekadar nasib buruk, melainkan pilihan untuk hidup/berakhir di tempat lain, di luar harapan keluarga.
- Penolakan romantisme duka: Ajakan kepada ibu supaya tidak menanyakan cinta atau bersedih menandai penolakan terhadap narasi belasungkawa yang melekat pada kepergian — si abang ingin kepergiannya tidak diliputi ilusi.
- Ketiadaan air mata sebagai simbol kerasnya keputusan: Baris terakhir menegaskan bahwa keluarga tidak punya airmata untuk meneguhkan pilihan si yang pergi; ada jarak emosional yang tak dapat ditambal.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi ini sunyi, dingin, dan tegas. Nada pesan itu lugas—bukan meratap tetapi menetapkan—sehingga pembaca merasakan keheningan yang keras di balik kata-kata singkat: bukan ratapan, melainkan penegasan tentang nasib dan pilihan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi dapat dibaca sebagai: terimalah bahwa ada manusia yang memilih jalan sendiri, dan belas kasihan atau tanya-tanya sentimental kadang tidak mengubah keputusan itu. Juga, puisi mengingatkan kita agar tidak memaksakan kerinduan atau pengharapan pada orang yang telah memilih jalannya sendiri.
Imaji
Meskipun ekonomis, puisi ini memakai imaji efektif:
- “negeri seberang”—imaji ruang jauh yang simultan: tanah asing, tempat pengasingan, atau negeri akhir.
- “matiku ditetapkan di lembah lain”—imaji finalitas, kemauan untuk berakhir jauh dari asal.
Imaji-imaji ini bekerja tanpa deskripsi panjang, cukup memancing resonansi emosional.
Majas
Beberapa majas yang tampak:
- Apostrof / seruan langsung: panggilan kepada “Ibu” memberi nuansa percakapan intim.
- Litotes / penyangkalan: “jangan tangisi… jangan bertanya” berfungsi menahan ekspresi emosi, sekaligus mempertegas keputusan.
- Metafora ruang: “negeri seberang”, “lembah lain” sebagai kiasan penempatan akhir hidup atau identitas baru.
- Elipsis / ekonomi kata: pemotongan frasa membuat nada jadi ringkas dan berat; ketegasan muncul lewat kekosongan yang tersisa.
Puisi "Kisah Siabang Hilang" adalah puisi ringkas yang tajam: ia bukan sekadar tentang kehilangan fisik, melainkan tentang pilihan eksistensial yang menolak belas kasihan dan kenangan sentimental. Dengan bahasa minimalis, Hartojo Andangdjaja menuliskan pesan yang tegas—pergi bisa menjadi keputusan final, dan keluarga/penunggu harus menghadapi itu tanpa melumuri keberangkatan dengan ilusi-ilusi yang menunda penerimaan.
Biodata Hartojo Andangdjaja:
- Hartojo Andangdjaja (Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya) lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.