Buah dan Hewan
Dalam Lukisan Sokaraja
Basah kebun oleh
Percintaan bulan-matahari.
Sebuah rantingdaun
Diiring pendar-pendar di air,
Enak sekali njuntai
Dari hutan seberang.
Kemudian beberapa butir buah
Jadi seperti dibebaskan.
Hatiku tak lebih merah
Dari jeritannya bukan?
Di bumi ini
Sungguh terjadi.
Sungguh terjadi,
Bersama beberapa ekor anaknya
Seekor babi hutan
Tengah minum
Di pinggir telaga ini.
Dan kau mencari mereka dariku,
Nyaris memaksaadakan.
Siapa gitu berani
Melukis bunga
Tanpa manusia?
1993/1995
Sumber: Horison (September, 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Buah dan Hewan" karya Badruddin Emce menghadirkan lanskap alam yang hidup dan penuh ketegangan batin. Alam digambarkan tidak sebagai latar pasif, melainkan ruang tempat peristiwa-peristiwa esensial terjadi tanpa campur tangan manusia. Melalui citraan kebun, buah, dan hewan liar, puisi ini menyentuh relasi antara alam, perasaan manusia, dan kehadiran manusia itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan alam yang otonom dan relasinya dengan kesadaran manusia. Alam digambarkan memiliki dinamika sendiri, yang sering kali tidak membutuhkan kehadiran manusia untuk menjadi utuh.
Puisi ini bercerita tentang peristiwa-peristiwa alam yang berlangsung apa adanya: kebun yang basah oleh “percintaan bulan-matahari”, buah yang seolah “dibebaskan”, serta seekor babi hutan bersama anak-anaknya yang minum di pinggir telaga. Di tengah kejadian itu, penyair berada dalam posisi tertekan ketika diminta untuk “mencari mereka”, seakan dipaksa menjelaskan atau menguasai sesuatu yang sejatinya bebas.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap hasrat manusia untuk menguasai, menamai, dan mengendalikan alam. Alam digambarkan telah “sungguh terjadi” tanpa legitimasi manusia. Pertanyaan penutup “Siapa gitu berani melukis bunga tanpa manusia?” menyiratkan perdebatan tentang ego manusia dalam memosisikan diri sebagai pusat makna.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tenang, namun mengandung ketegangan reflektif. Ketenteraman alam berhadapan dengan kegelisahan batin penyair saat berhadapan dengan tuntutan manusia lain.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk merendahkan ego manusia di hadapan alam. Puisi ini mengingatkan bahwa alam memiliki nilai dan keberadaannya sendiri, terlepas dari campur tangan, penilaian, atau pengakuan manusia.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual. Imaji tersebut tampak pada kebun yang basah, ranting dan daun yang memantul di air, buah yang berguguran, serta babi hutan dan anak-anaknya yang minum di telaga. Imaji-imaji ini membangun lanskap alam yang konkret dan hidup.
Majas
Puisi ini menggunakan majas personifikasi dan metafora. Personifikasi terlihat pada “percintaan bulan-matahari”, sementara metafora hadir pada buah yang “dibebaskan” sebagai simbol kebebasan alam dari intervensi manusia. Pertanyaan retoris di bagian akhir memperkuat refleksi filosofis puisi.
Puisi ini mengajak pembaca merenungkan ulang posisi manusia dalam semesta. Badruddin Emce menegaskan bahwa alam bukanlah objek pasif, melainkan subjek yang hidup, bergerak, dan bermakna—bahkan tanpa kehadiran manusia.
Puisi: Buah dan Hewan dalam Lukisan Sokaraja
Karya: Badruddin Emce
Biodata Badruddin Emce:
- Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.