Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan (Karya Putu Oka Sukanta)

Puisi "Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan" karya Putu Oka Sukanta mengeksplorasi tema penindasan, hipokrisi, dan ketidakadilan yang terjadi di bawah ...
Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan

Aku ingat benar, kata Suharto semasa jaya
Anak cucu tidak akan membayar hutang, karena kita kaya
Hutan tidak akan ligir, sungai tidak tercemar karena kita berbudaya
Burung tidak kehilangan sarang, kandungan bumi membangun sejahtera
Ternyata telah dibuktikan anak cucu Cendana.

Aku ingat benar senyumnya, menyeringai serigala
Taringnya tidak pernah bersih dari darah jelata
Ya, aku ingat benar kata-katanya
Anak cucu tidak akan menderita, ternyata anak cucu Cendana.

Ia dengan lihai membangun bui kecil, bui besar, bui maha luas
Bui berjeruji, dan menyaingi angkasa dengan bui tanpa batas
Sekarang aku bertanya kepadamu, untuk siapakah itu semua
Penjara itu adakah juga rumah untuk anak cucu Cendana.

Aku ingat benar, setiap bulan masih harus melapor, tidak boleh lupa
RT, TW, Lurah, Babinsa, Koramil dan seterusnya dinobatkan menjadi mata-mata
Dan sampai kini ada yang tertinggal tak mampu disapu
Menteri Dalam Negeri masih bengong, seperti tiang diam terpaku
Membisu, aku ingin mendengar bisikan kalbumu.

Dua ribu, Indonesia baru?
Indonesia baru?
Apa yang baru?
Dua ribu
Kalkulator dihidupkan langkah zaman
Dendam diusung keranda kematian
Tanganmu, tanganku akan berjabatan
Seusai pengadilan.

Jakarta, 1999

Analisis Puisi:

Puisi "Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan" karya Putu Oka Sukanta merupakan sebuah refleksi tajam terhadap sejarah politik dan sosial Indonesia, khususnya dalam konteks pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto. Dengan menggunakan gaya bahasa yang kuat dan metafora yang mendalam, puisi ini mengeksplorasi tema penindasan, hipokrisi, dan dampak dari kekuasaan absolut.

Tema

  • Penindasan dan Hipokrisi: Tema utama dalam puisi ini adalah penindasan dan hipokrisi yang terjadi selama pemerintahan Suharto. Penulis mengungkapkan bagaimana janji-janji politik yang dibuat oleh Suharto, seperti kesejahteraan dan pembangunan, ternyata tidak lebih dari sekadar retorika kosong. Melalui penggunaan metafora "kerangkeng kemanusiaan," puisi ini menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat menciptakan sistem penjara yang mengekang kebebasan dan kesejahteraan rakyat.
  • Kekuasaan Absolut dan Ketidakadilan: Puisi ini juga membahas dampak dari kekuasaan absolut dan ketidakadilan yang terjadi di bawah rezim Suharto. Dengan menyebutkan "bui kecil, bui besar, bui maha luas," penulis menggambarkan bagaimana kekuasaan politik menciptakan sistem yang mengekang dan mengontrol kehidupan rakyat, serta menciptakan ketidakadilan yang merugikan masyarakat luas.

Gaya dan Struktur

  • Gaya Bahasa: Gaya bahasa dalam puisi ini adalah kritis dan reflektif, menggunakan metafora yang kuat dan bahasa yang tajam. Penulis menggunakan simbolisme dan imageri untuk menciptakan gambaran tentang penindasan dan ketidakadilan. Gaya ini menciptakan suasana yang menegangkan dan mendalam, sesuai dengan tema kritik sosial dan politik.
  • Struktur dan Alur: Puisi ini memiliki struktur yang bebas dengan alur yang mengikuti refleksi penulis tentang pengalaman dan pengamatan politiknya. Setiap bait mengungkapkan aspek berbeda dari penindasan dan ketidakadilan, dari janji politik yang kosong hingga sistem penjara dan pengawasan. Struktur ini memungkinkan penulis untuk mengeksplorasi tema secara mendalam dan menyeluruh.

Makna dan Pesan

Puisi "Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan" menyampaikan pesan tentang ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di bawah rezim Suharto. Melalui gaya bahasa yang tajam dan metafora yang kuat, puisi ini menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat menciptakan sistem yang mengekang kebebasan dan kesejahteraan rakyat. Pesan utama puisi ini adalah pentingnya memahami dan mengatasi dampak dari kekuasaan absolut serta kebutuhan untuk keadilan dan perubahan yang nyata.

Puisi "Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan" karya Putu Oka Sukanta adalah sebuah karya yang kuat dan kritis terhadap sejarah politik Indonesia selama era Suharto. Dengan gaya bahasa yang tajam dan metafora yang mendalam, puisi ini mengeksplorasi tema penindasan, hipokrisi, dan ketidakadilan yang terjadi di bawah kekuasaan absolut. Pesan utama puisi ini adalah tentang pentingnya memahami dan mengatasi dampak dari kekuasaan yang mengekang, serta perlunya keadilan dan perubahan yang nyata dalam masyarakat.

Puisi: Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan
Puisi: Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan
Karya: Putu Oka Sukanta
© Sepenuhnya. All rights reserved.