Sebuah Kehadiran (1)
kepada Leon Agusta
rumah dengan sarang panah
unggun bermula dari kekinian
padaku datang rangsang berbenah
tapi aku waspada jalan keyakinan
Sebuah Kehadiran (2)
berburu di padang-padang rimba sasapan
tahu kau. anjing setia musang lapar
dan gagak-gagak terbang lalu hinggap di dahan
akankah kubidik, lembing kulempar.
Sebuah Kehadiran (3)
di bawah langit kelahiran tercinta
di pinggang bukit penantian
kuhitung usia kuhitung dosa
jangan bilang – aku buat balas
Sebuah Kehadiran (4)
putih mata mekar harapan
lewat jalanan babi luka
batu cadas jalan sulit di penurunan
lagu musim di mulut terbuka.
Sebuah Kehadiran (5)
kalau guruh datang tengah hari
gabak pun datang dari utara
langkah tergesa getar jejari
wahai, di tubuhku luka tak bertara
Sebuah Kehadiran (6)
peot juga muka tanda tua
gelitik ilalang ditiup angin
di halaman anak-anak mengeja membaca
mataku diterpa angin
Sebuah Kehadiran (7)
tahu kau. generasi demi generasi
berdatangan dan menemu ajal
aku bawa api kau bawa api
jalan kita, bukit ini terjal.
Sebuah Kehadiran (8)
kepala belanga ragi
dada selempang pelangi
biuskan mereka pada kekinian hari
tanpa mulut berbusa tanpa dosa jadi.
Sebuah Kehadiran (9)
istilah dan sejarah
silsilah dari sebuah republik
jubah pemimpin pemurah
kita punya tikar dan lapik
Sebuah Kehadiran (10)
kamar dan rak buku terlantar
dinding selalu menagih kerja
tak menidurkan tubuh resah terlantar
hujan sama jatuh di samar senja.
1965
Sumber: Parewa (1998)
Analisis Puisi:
Puisi “Sebuah Kehadiran” karya Rusli Marzuki Saria merupakan rangkaian sepuluh bagian yang membentuk satu kesatuan reflektif tentang hidup, waktu, keyakinan, sejarah, dan perjalanan manusia dalam ruang sosial maupun spiritual. Puisi ini tidak hadir sebagai kisah linear, melainkan sebagai fragmen-fragmen kesadaran yang saling menyambung, menghadirkan perenungan mendalam tentang keberadaan manusia di tengah zaman, generasi, dan republik yang terus bergerak.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran akan keberadaan (eksistensi) manusia dalam lintasan waktu, sejarah, dan generasi. Kehadiran dipahami bukan sekadar fisik, melainkan sebagai tanggung jawab batin, ingatan kolektif, dan sikap hidup di tengah perubahan zaman.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang berhadapan dengan keyakinan, usia, dosa, luka, sejarah, serta generasi yang silih berganti. Melalui metafora alam, perburuan, rumah, bukit, dan perjalanan, puisi ini menggambarkan manusia yang terus waspada, menimbang langkah, dan menyadari keterbatasannya di hadapan waktu dan kehidupan sosial.
Setiap bagian “Sebuah Kehadiran” seperti catatan singkat tentang fase atau sudut pandang tertentu dari hidup: dari kewaspadaan ideologis, perburuan makna, perhitungan usia dan dosa, hingga kesadaran akan generasi dan sejarah republik.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah ajakan untuk memahami kehadiran manusia sebagai proses yang penuh tanggung jawab, bukan sekadar hadir tanpa sikap. Kehadiran mengandung luka, pertanyaan, dan kerja batin yang tidak selesai-selesai.
Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap kekinian yang bisa membius kesadaran, membuat manusia lupa pada sejarah, silsilah, dan kerja nyata yang dituntut oleh kehidupan bersama.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung kontemplatif, waspada, dan muram reflektif. Ada ketegangan batin yang halus, rasa letih, luka, sekaligus keteguhan untuk tetap berjalan di “bukit yang terjal”.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa hidup menuntut kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi luka serta sejarah. Manusia tidak boleh terlena oleh kekinian semata, melainkan perlu memahami asal-usul, generasi, dan kerja yang terus menagih untuk diselesaikan.
Puisi ini juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga api semangat dan kesadaran, meskipun jalan hidup terasa sulit dan terjal.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti “jalan keyakinan” dan “bukit ini terjal” untuk melambangkan perjuangan hidup dan ideologis.
- Personifikasi, pada ungkapan “dinding selalu menagih kerja”.
Puisi “Sebuah Kehadiran” karya Rusli Marzuki Saria adalah puisi reflektif yang mengajak pembaca merenungkan arti hadir sebagai manusia di tengah sejarah, generasi, dan zaman yang terus berubah. Kehadiran dalam puisi ini bukan sesuatu yang ringan, melainkan sarat luka, kerja, kesadaran, dan tanggung jawab, yang harus dijalani dengan kewaspadaan dan keteguhan hati.
Puisi: Sebuah Kehadiran
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang, Bukittinggi, 26 Februari 1936.