Puisi: Wish You were Here (Karya Wahyu Prasetya)

Puisi "Wish You Were Here" karya Wahyu Prasetya merupakan potret kegelisahan manusia modern yang terjebak di antara pengetahuan, kekuasaan, dan ...
Wish You were Here
bagi: umbu landu paranggi

dimana-mana tangan itu menggali jurang untuk kekosongan
dengan lengan yang terkikis waktu, menyerahkan hujan pada
laut, hingga badai memutihkan ubun-ubun sendiri
begitu tak ada yang harus diperihkan, ketika manusia runtuh
masih saja menyelinap, dari bayang herbert marcuse, ronggo warsito
atau sidharta gautama,
kemudian berombak ke arah angin yang meniupkan usia itu

kau yang kenyang mendengar kelopak mawar jatuh, menahan tangis
seperti ombak atau rimba dalam dirimu
apa kau juga menghapal pidato dari televisi dan sandiwara
kekuasaan jaman ini
mungkin kau tak perlu belati yang terhunus di balik dadamu
hanya rindu kepada semesta untuk mengembalikan pada nol

kalau nanti maut menyergap, antara kebiruan langit dan
kelelawar, aku kira sudah saatnya peradaban aids ini
membuat dunia mengangkang dan sekarat
sebait lagi, kau baca rembulan yang turun ke laut,
gedeburnya kau kemanakan?
selain pada hening. kebisuan jari-jari tangan yang melambai
di situ barangkali kita berhadapan,
mengelus keranda.

Malang, 1993-1994

Sumber: Sesudah Gelas Pecah (1996)

Catatan:
Wish You were Here = judul lagu Pink Floyd.

Analisis Puisi:

Puisi "Wish You Were Here" menampilkan lanskap batin yang gelap, reflektif, dan penuh kegelisahan zaman. Judul berbahasa Inggris yang bernuansa rindu ini justru berhadapan dengan isi puisi yang sarat kritik peradaban, kesepian eksistensial, serta kesadaran akan kematian. Wahyu Prasetya meramu renungan personal dengan bayang-bayang pemikiran filsafat, spiritualitas, dan realitas sosial kontemporer.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan eksistensial di tengah krisis kemanusiaan dan keruntuhan peradaban. Puisi ini juga mengangkat tema kehampaan, kritik kekuasaan, dan kesadaran akan kefanaan hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengamati manusia dan dunia yang kian runtuh secara moral dan spiritual. Di tengah kehampaan itu, muncul sosok “kau” yang diajak berdialog—figur yang kenyang oleh pengetahuan, wacana, dan tontonan kekuasaan, namun tetap menyimpan rindu mendalam pada semesta dan keheningan. Puisi bergerak dari gambaran kehancuran batin, kritik sosial, hingga perenungan tentang maut dan perjumpaan terakhir dalam sunyi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap peradaban modern yang kehilangan orientasi kemanusiaan. Rujukan pada Herbert Marcuse, Ronggowarsito, dan Siddharta Gautama menyiratkan kegelisahan intelektual lintas zaman tentang penderitaan manusia. Keinginan “kembali pada nol” mencerminkan hasrat pemurnian diri, keluar dari beban ideologi, kekuasaan, dan kepalsuan dunia modern. Maut dipandang bukan semata akhir, melainkan ruang perjumpaan paling jujur setelah kebisingan dunia reda.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana muram, getir, dan kontemplatif. Nuansa sunyi, rindu, dan kecemasan eksistensial mengalir kuat, terutama ketika puisi bergerak menuju gambaran kematian, kebisuan, dan keranda.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia dan kegagalan peradaban yang terlalu pongah. Puisi ini mengingatkan pentingnya kembali pada keheningan, kejujuran batin, dan kesadaran spiritual di tengah dunia yang bising oleh kekuasaan dan kehancuran.

Puisi "Wish You Were Here" karya Wahyu Prasetya merupakan potret kegelisahan manusia modern yang terjebak di antara pengetahuan, kekuasaan, dan kehampaan batin. Dengan bahasa yang padat simbol dan imaji kelam, puisi ini mengajak pembaca merenungi ulang makna hidup, rindu, dan kematian—serta kemungkinan perjumpaan yang paling jujur hanya terjadi dalam keheningan.

Wahyu Prasetya
Puisi: Wish You were Here
Karya: Wahyu Prasetya

Biodata Wahyu Prasetya:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto (akrab dipanggil Pungky) lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
  • Wahyu Prasetya meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2018 (pada umur 61).
© Sepenuhnya. All rights reserved.