Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sajak tentang Citra Sebuah Kota (Karya Diah Hadaning)

Puisi “Sajak tentang Citra Sebuah Kota” karya Diah Hadaning bercerita tentang seseorang yang menyapa sebuah kota dan mengamati perubahan yang ...
Sajak tentang Citra Sebuah Kota

gemerincing genta pahimu, kota
tak lagi menambatkan sukma pada masa-masa tanpa nama
selain cerita tentang budaya yang baur dalam bisnis
dan rintih tentangmu yang mulai kehilangan citra
malam-malam sepanjang jalanmu
sepi tanpa Umbu Landu Paranggi
tapi ramai oleh celoteh dara-dara kenes pejalan kaki
pernah ku bayangkan di setiap mana ku temukan kerabatku
nyatanya aku harus menjelajah kampung
sebelum saling berpagut dalam inspirasi
dan mengejar cerita malam bersama kepak kelelawar.

Jakarta, 1980

Analisis Puisi:

Puisi “Sajak tentang Citra Sebuah Kota” karya Diah Hadaning menghadirkan perenungan lirih tentang wajah sebuah kota yang terus berubah. Kota tidak hanya dipahami sebagai ruang fisik, melainkan sebagai ruang ingatan, kebudayaan, dan relasi manusia yang perlahan mengalami pergeseran nilai. Dengan bahasa simbolik dan nada reflektif, puisi ini mempertanyakan apa yang tersisa dari identitas kota ketika budaya mulai tersisih oleh kepentingan lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan citra dan identitas kota. Puisi ini juga mengangkat tema pergeseran nilai budaya, kerinduan terhadap masa lalu, serta ketegangan antara kebudayaan dan komersialisasi. Kota digambarkan sebagai ruang yang tidak lagi sepenuhnya ramah bagi sukma dan inspirasi.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyapa sebuah kota dan mengamati perubahan yang terjadi di dalamnya. Kota yang dahulu sarat makna kini hanya menyisakan cerita tentang budaya yang berbaur dengan bisnis. Malam-malam kota terasa sepi tanpa sosok Umbu Landu Paranggi, namun tetap ramai oleh hiruk-pikuk generasi muda pejalan kaki. Penyair juga menuturkan pengalaman menjelajah kampung demi menemukan kembali jejaring inspirasi dan kedekatan batin.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kota yang kehilangan roh kebudayaannya. Nama Umbu Landu Paranggi hadir sebagai simbol intelektual dan spiritual yang pernah memberi jiwa pada kota. Ketika sosok-sosok semacam itu menghilang, kota tetap hidup secara fisik, tetapi kehilangan kedalaman makna. Puisi ini juga menyiratkan bahwa inspirasi tidak lagi hadir secara alami, melainkan harus dicari dengan usaha dan pengembaraan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis dan reflektif. Ada rasa rindu, kehilangan, dan keheningan batin yang kuat, meskipun kota secara lahiriah tampak ramai. Kontras antara sepi dan ramai menegaskan kegelisahan penyair terhadap perubahan yang terjadi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya menjaga citra dan jiwa budaya sebuah kota. Kota tidak cukup dibangun dengan aktivitas ekonomi dan keramaian, tetapi juga harus memelihara ruang-ruang inspirasi, perjumpaan, dan kebudayaan agar tidak kehilangan maknanya bagi warganya.

Puisi “Sajak tentang Citra Sebuah Kota” adalah puisi kritik kultural yang halus namun tajam. Diah Hadaning mengajak pembaca merenungkan kembali hubungan antara kota, budaya, dan manusia. Puisi ini menegaskan bahwa tanpa kesadaran merawat nilai-nilai budaya, sebuah kota bisa tetap ramai—namun kehilangan jiwa dan arah.

"Puisi: Sajak tentang Citra Sebuah Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Citra Sebuah Kota
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.