Puisi: Tahun-Tahun Padat Bakti (Karya Fridolin Ukur)

Puisi "Tahun-Tahun Padat Bakti" karya Fridolin Ukur bercerita tentang perjalanan panjang seseorang yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan ...
Tahun-Tahun Padat Bakti
Sapta dasawarsa: J.L.Ch. Abineno,
Desember, 1987

        (I)

        Mentari kita
        mentari khatulistiwa
        setia tak pernah alpa
        setiap pagi
        membuka jendela
        melahirkan hari-hari remaja

sampai hari ini
fajar selalu datang lagi
dan kita merobek penanggalan ini
helai demi helai
lembar demi lembar

        sampai hari ini
        susunan hari teramat banyak
        tertumpuk di hitungan waktu:
        tujuh puluh tahun
        kembara panjang di bumi yang tambah
        tua

(II)

Jam-jam terbaik dari kehidupan ini
pernah kita bagi bersama

        tahun-tahun padat
        keras menguras tenaga
        mengasah akal memperuncing budi
        satu-satu
        berbaris tersusun
        di jarak kenang yang makin jauh

waktu itu,
setiap kata
setiap kalimat yang kutulis
kau tanya: kenapa?
untuk menjawab setiap kenapa
sebuah buku harus kubaca
dan engkau tersenyum gembira!

        Diikat satu cita
        kita berjalan dalam keakraban
        menepis lekat-lekat fana
        menyambut angin lembut
        menerpa badai kusut

sampai lahir bayi ini
putra pertama kandungan cinta
dari rahim sang almamater
dan kita beri ia bernama,
si "tantang jawab suku dayak"

        itulah tahun-tahun
        ulet liat
        melentur-lentur
        menantang waktu

(III)

Mari
mari
kubasuh kakimu letih
setelah kembara cukup lama
menapaki jalanan
bersama gelepar waktu
selama sapta dasawarsa

        tawamu masih seperti dulu
        jernih sabar
        bersih segar
        pertanda hatimu penuh madu
        harumnya bunga-bunga mekar

Terulang gambar
kuda binal dari Timor
melompat berlari tak kenal lelah
menerjang kabut
menusuk awan
sampai dijumpainya betina idaman
dari negeri datar tak berpegunungan
tanah dingin berkincir angin

        mari
        mari
        kubasuh kakimu letih
        sehabis pengabdian cukup panjang
        menjalani lingkar-lingkar malam;
        dengan semangkok air bermelati putih
        sarat doa memohon berkat
        atas hidupmu lalu
        atas hidupmu kini
        atas hidupmu nanti

(IV)

Semua yang bermakna ilmu
Semua yang indah mengandung makna
Semua yang mengacu pada bahagia
Yang tertata rapi
Di ribuan lembar buku,
Adalah pemberianmu sarat rahmat
adalah warisanmu padat hikmat

        yang terbaik bagi kehidupan
        telah kauberikan untuk kami!

Hari ini
kau boleh bangga dan percaya
pada semua angkatan ini
yang kini berbaris memberi hormat
mengucap salam, menyampaikan selamat

        Hari ini
        kau boleh tenang dan merasa lega
        melepas barisan ini pergi
        melanjutkan juang menuang bakti

Hari ini
kita tembangkan lagi
senandung juang suci
kita dendangkan madah ini
lagu syukur kidung bakti
percik-percik keabadian
menyentuh bumi
usap kekekalan
menjamah hati

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Tahun-Tahun Padat Bakti" karya Fridolin Ukur merupakan karya yang sarat makna dan mencerminkan perjalanan hidup, perjuangan, serta dedikasi terhadap ilmu dan pengabdian. Berikut adalah analisis puisi ini berdasarkan tema, makna tersirat, serta unsur-unsur sastra lainnya.

Tema

Puisi ini mengangkat tema perjalanan hidup, perjuangan, pendidikan, dan pengabdian. Penyair menggambarkan bagaimana seseorang melewati waktu dengan kerja keras, menuntut ilmu, dan memberikan dedikasi kepada kehidupan. Selain itu, puisi ini juga menyinggung tentang penghormatan terhadap sosok yang telah berkontribusi dalam membimbing generasi muda.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah tentang pentingnya pendidikan dan pengabdian dalam kehidupan. Setiap barisnya menunjukkan bahwa perjalanan panjang seseorang dalam menuntut ilmu dan berbagi pengetahuan adalah bentuk perjuangan yang tidak sia-sia. Penyair juga menyiratkan bahwa ilmu yang diwariskan akan tetap hidup dalam diri generasi penerus yang meneruskan perjuangan tersebut.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan panjang seseorang yang mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Digambarkan bagaimana tokoh dalam puisi mengalami perjuangan, kerja keras, serta kebanggaan melihat hasil dari dedikasinya. Ada juga gambaran tentang bagaimana ilmu diwariskan kepada generasi selanjutnya dan bagaimana pengabdian seseorang dikenang dengan penuh hormat.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana yang penuh penghormatan, kehangatan, dan kebanggaan. Terdapat juga nuansa nostalgia yang menggambarkan perjalanan panjang seseorang yang telah memberikan banyak kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Amanat/Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa ilmu dan pendidikan adalah warisan berharga yang harus dijaga dan diteruskan. Penyair juga ingin menekankan bahwa perjalanan hidup yang diisi dengan kerja keras, pengorbanan, dan pengabdian akan selalu dikenang dan dihargai oleh generasi berikutnya.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini kaya akan imaji visual dan imaji perasaan. Misalnya, gambaran mentari khatulistiwa yang menyiratkan keberlanjutan dan keteguhan, serta kubasuh kakimu letih yang melukiskan rasa hormat dan penghormatan kepada seseorang yang telah lama berjuang.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, seperti putra pertama kandungan cinta dari rahim sang almamater, yang menggambarkan ilmu atau suatu pencapaian sebagai anak yang dilahirkan dari perjuangan.
  • Personifikasi, seperti fajar selalu datang lagi yang menggambarkan hari-hari yang terus berulang sebagai entitas yang hidup.
  • Simile, seperti tawamu masih seperti dulu, yang membandingkan ekspresi seseorang dengan keadaan masa lalu.
Puisi "Tahun-Tahun Padat Bakti" adalah sebuah refleksi atas perjalanan hidup dan pengabdian dalam dunia ilmu dan pendidikan. Dengan bahasa yang puitis dan penuh makna, Fridolin Ukur berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya kerja keras, dedikasi, dan warisan ilmu bagi generasi mendatang. Puisi ini juga menjadi bentuk penghormatan bagi mereka yang telah berjuang dalam dunia pendidikan dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat.

Fridolin Ukur
Puisi: Tahun-Tahun Padat Bakti
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.