Puisi: Kepada Latiff Mohidin (Karya Leon Agusta)

Puisi “Kepada Latiff Mohidin” karya Leon Agusta menggambarkan sosok pengembara yang hidup dalam lintasan pengalaman lintas budaya, sekaligus ...
Kepada Latiff Mohidin

Tanpa memberi kabar
Yang terbang telah mendarat
Tanpa memberi kabar
Pengembara sudah berangkat
Rindunya di Vientianne
Nostalgianya di Bukittinggi
Malamnya di Frankfurt
Gairahnya di Seoul
Sepinya Sungai Mekong
Gelisahnya di New York
Tangisnya terpendam di hutan-hutan
Darah dan keringatnya Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, oh Kuala Lumpur

Kuala Lumpur, Juli 1974

Sumber: Gendang Pengembara (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Kepada Latiff Mohidin” karya Leon Agusta merupakan puisi yang bernuansa reflektif dan kosmopolitan. Dengan menyebut berbagai kota di dunia, penyair menggambarkan sosok pengembara yang hidup dalam lintasan pengalaman lintas budaya, sekaligus menyimpan kerinduan, kegelisahan, dan pencarian jati diri.

Puisi ini ditujukan kepada Latiff Mohidin, seorang seniman besar Asia Tenggara yang dikenal dengan perjalanan dan eksplorasi kulturalnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup seorang pengembara dan pencarian identitas diri. Selain itu, terdapat tema tentang kerinduan, keterasingan, dan pengalaman lintas budaya.

Puisi ini bercerita tentang sosok pengembara yang berpindah-pindah tempat tanpa kepastian, seolah hidup dalam arus perjalanan yang terus bergerak. Setiap kota yang disebutkan merepresentasikan potongan pengalaman emosional yang berbeda—rindu, nostalgia, gairah, hingga kesepian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Perjalanan fisik mencerminkan perjalanan batin manusia dalam mencari makna hidup.
  • Setiap tempat menyimpan emosi dan kenangan yang berbeda, menunjukkan kompleksitas pengalaman manusia.
  • Ungkapan “tanpa memberi kabar” menandakan bahwa hidup sering berjalan tanpa kepastian atau kontrol penuh dari manusia.
  • Sosok pengembara dapat dimaknai sebagai seniman atau manusia modern yang hidup dalam keterasingan global.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa melankolis, reflektif, dan sedikit nostalgis, dengan nuansa kesepian yang halus namun mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Perjalanan hidup adalah proses yang penuh pengalaman dan pembelajaran, meskipun sering terasa tidak pasti.
  • Manusia perlu menerima keragaman pengalaman sebagai bagian dari pembentukan diri.
  • Dalam perjalanan sejauh apa pun, manusia tetap membawa emosi dan kerinduan terhadap tempat atau masa tertentu.

Imaji

Puisi ini mengandung imaji yang bersifat geografis dan emosional, antara lain:
  • Imaji visual: penyebutan kota-kota seperti Vientiane, Bukittinggi, Frankfurt, Seoul, Kuala Lumpur.
  • Imaji perasaan: rindu, nostalgia, gairah, kesepian, kegelisahan.
  • Imaji konseptual: perjalanan tanpa arah yang pasti.
Imaji ini memperkuat kesan luasnya pengalaman hidup sang pengembara.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Repetisi: Pengulangan “tanpa memberi kabar” untuk menegaskan ketidakpastian.
  • Metafora: “pengembara” sebagai simbol manusia yang mencari makna hidup.
  • Simbolisme: Kota-kota sebagai lambang pengalaman emosional yang berbeda.
  • Enumerasi: Penyebutan berderet tempat untuk memperlihatkan luasnya perjalanan.
  • Paradoks: Perjalanan yang penuh pengalaman namun tetap menyisakan kesepian.
Puisi ini menampilkan refleksi mendalam tentang kehidupan sebagai perjalanan tanpa akhir. Leon Agusta melalui puisi ini tidak hanya menggambarkan sosok Latiff Mohidin sebagai pengembara, tetapi juga menghadirkan gambaran manusia modern yang hidup di antara berbagai tempat, pengalaman, dan perasaan yang saling berkelindan.

Leon Agusta
Puisi: Kepada Latiff Mohidin
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.