Puisi: Polar Express (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Puisi “Polar Express” karya Abinaya Ghina Jamela menggambarkan rasa ingin tahu anak-anak serta ...

Polar Express

Tut-tut!!! suara kereta api
seperti kentut, aku terbangun,
aku memakai jaket bolongku,
aku melihat keluar ada kereta api
sepanjang pensil, dan aku
mendekatinya. Setumpuk salju
warna putih membuat aku lambat
selambat seekor siput. Lalu orang
lelaki dewasa mengajakku naik kereta
aku menghampirinya, dia mengajakku
sambil bilang, "Ini adalah Polar Express."
tapi aku tak mau, kereta berangkat.
Aku mengejarnya secepat harimau.

2016

Sumber: Resep Membuat Jagat Raya (Kabarita, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Polar Express” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang penuh imajinasi dan keceriaan. Puisi ini menghadirkan pengalaman ajaib seorang anak yang bertemu kereta misterius di tengah salju dan mencoba mengejarnya.

Dengan bahasa sederhana dan lucu, penyair berhasil menggambarkan dunia anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, spontanitas, dan petualangan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah petualangan dan imajinasi anak-anak. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keberanian, rasa penasaran, dan semangat mengejar sesuatu yang menarik.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang terbangun karena suara kereta api. Setelah memakai jaket bolongnya, ia melihat sebuah kereta unik yang muncul di tengah salju.

Seorang lelaki dewasa mengajaknya naik kereta yang disebut “Polar Express”, tetapi awalnya ia ragu dan tidak mau naik. Ketika kereta mulai berangkat, anak itu justru mengejarnya dengan penuh semangat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesempatan kadang datang secara tiba-tiba dan manusia perlu berani mengambilnya.

Puisi ini juga menyiratkan dunia anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan imajinasi. Kereta “Polar Express” dapat dimaknai sebagai simbol petualangan, mimpi, atau pengalaman baru yang menarik.

Selain itu, sikap penyair yang akhirnya mengejar kereta menunjukkan bahwa keberanian sering muncul setelah seseorang menyadari nilai dari kesempatan tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa ceria, lucu, dan penuh petualangan. Penggunaan perbandingan unik dan gaya bahasa sederhana membuat puisi terasa dekat dengan dunia anak-anak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia tidak boleh takut mencoba hal baru.

Puisi ini juga mengajarkan pentingnya rasa ingin tahu, keberanian, dan semangat mengejar kesempatan yang datang dalam hidup.

Diksi

Diksi dalam puisi ini sederhana, santai, dan khas anak-anak. Kata-kata seperti “kentut”, “jaket bolong”, “selambat seekor siput”, dan “secepat harimau” membuat puisi terasa ringan dan menghibur.

Pilihan kata tersebut menunjukkan cara pandang anak-anak yang polos dan penuh imajinasi.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji pendengaran, tampak pada bunyi “Tut-tut!!! suara kereta api”.
  • Imaji penglihatan, terlihat pada gambaran kereta api, salju putih, dan jaket bolong.
  • Imaji gerak, tampak pada kegiatan mengejar kereta dan berjalan lambat di salju.
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca mudah membayangkan suasana petualangan dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Simile, pada ungkapan “suara kereta api seperti kentut”, “selambat seekor siput”, dan “secepat harimau”.
  • Hiperbola, pada gambaran kereta “sepanjang pensil” yang memberi kesan unik dan imajinatif.
  • Personifikasi, tersirat pada kereta yang seolah memiliki daya tarik ajaib bagi penyair.
  • Humor, tampak pada penggunaan perbandingan lucu yang khas dunia anak-anak.
Puisi “Polar Express” karya Abinaya Ghina Jamela menghadirkan petualangan sederhana yang penuh imajinasi dan keceriaan. Dengan bahasa yang ringan dan lucu, puisi ini berhasil menggambarkan rasa ingin tahu anak-anak serta keberanian mereka dalam mengejar pengalaman baru.

Abinaya Ghina Jamela
Puisi: Polar Express
Karya: Abinaya Ghina Jamela

  • Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.