Sembunyi Barangkali
sembunyi,
barangkali abadi.
ke dalam gua-gua paling keriput; sembunyi
berdendang pada nada dan lirik; sembunyi
di dalam hitam putih lembaran napas; sembunyi
antara sinar pohon tua; sembunyi
antara bayangan masa muda yang rapuh; sembunyi
pada oleng perahu di lautan; sembunyi
ke puncak gunung-gunung; sembunyi
meliuk bagai debu di ventilasi jendela; sembunyi
mampir di kehijauan nadi; sembunyi,
barangkali
abadi.
12 Agustus 2019
Sumber: Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (Gramedia Pustaka Utama, 2021)
Analisis Puisi:
Puisi “Sembunyi Barangkali” karya Theoresia Rumthe merupakan puisi reflektif yang penuh simbol dan pengulangan puitis. Dengan kata utama “sembunyi” yang terus diulang, penyair menghadirkan gambaran tentang manusia yang berusaha bersembunyi dari kenyataan, waktu, luka, atau bahkan dari dirinya sendiri.
Puisi ini menggunakan banyak citraan alam dan ruang untuk menggambarkan perjalanan batin manusia. Keseluruhan puisi terasa seperti meditasi tentang keberadaan, kesunyian, dan keinginan untuk bertahan dalam keabadian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian diri dan pelarian batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesunyian, ketakutan, kenangan, dan keinginan untuk bertahan dari kefanaan hidup.
Puisi ini bercerita tentang sesuatu atau seseorang yang terus “sembunyi” di berbagai tempat dan keadaan. Tempat-tempat itu tidak hanya nyata, seperti gua, gunung, atau ventilasi jendela, tetapi juga bersifat simbolis, seperti “lembaran napas”, “bayangan masa muda”, dan “kehijauan nadi”.
Pengulangan kata “sembunyi” memperlihatkan usaha terus-menerus untuk menghindar, melindungi diri, atau mencari ruang aman di tengah kehidupan yang rapuh dan sementara.
Pada awal dan akhir puisi muncul frasa “barangkali abadi”, yang memberi kesan bahwa tindakan bersembunyi itu mungkin merupakan cara manusia mempertahankan dirinya dari kehancuran dan waktu.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering menyimpan luka, ketakutan, atau kenangan di tempat-tempat tersembunyi dalam dirinya. “Sembunyi” menjadi simbol usaha mempertahankan identitas dan perasaan agar tidak hilang oleh waktu dan kenyataan hidup.
Frasa “barangkali abadi” menunjukkan harapan bahwa sesuatu yang disembunyikan—baik kenangan, cinta, luka, maupun diri sendiri—dapat tetap hidup dan bertahan.
Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai refleksi tentang kesendirian manusia yang terus mencari tempat aman di tengah perubahan hidup.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Sunyi.
- Kontemplatif.
- Melankolis.
- Mistis.
- Reflektif.
Pengulangan kata dan penggunaan simbol alam menciptakan nuansa tenang tetapi penuh perenungan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia memiliki sisi batin yang sering tersembunyi dan tidak mudah dipahami orang lain. Kesunyian dan perenungan merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa kenangan, luka, dan pengalaman hidup akan selalu menjadi bagian dari diri manusia, meskipun disimpan dalam-dalam.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran gua-gua keriput, pohon tua, gunung-gunung, debu di ventilasi jendela, dan lautan.
- Imaji gerak: Terlihat dalam kata “meliuk”, “mampir”, dan “oleng”.
- Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa sunyi, rapuh, dan penuh pencarian batin.
- Imaji perabaan: Kesan tua, keriput, dan rapuh terasa kuat dalam beberapa larik puisi.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas repetisi: Pengulangan kata “sembunyi” menjadi ciri utama puisi dan memperkuat makna pencarian ruang perlindungan.
- Majas simile/perumpamaan: “Meliuk bagai debu di ventilasi jendela”.
- Majas metafora: “Lembaran napas” dan “kehijauan nadi” menjadi metafora kehidupan dan keberadaan manusia.
- Majas personifikasi: Bayangan masa muda dan nada seolah memiliki kehidupan sendiri.
- Majas simbolik: Gua, gunung, laut, dan pohon tua menjadi simbol ruang batin, perjalanan hidup, dan waktu.
Puisi “Sembunyi Barangkali” karya Theoresia Rumthe merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kesunyian dan pencarian ruang batin manusia. Dengan pengulangan kata “sembunyi” serta simbol-simbol alam yang kuat, penyair menghadirkan renungan tentang kenangan, luka, dan usaha manusia mempertahankan dirinya dari kefanaan hidup. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, manusia menyimpan dunia batin yang dalam dan sering tersembunyi.
Karya: Theoresia Rumthe
- Theoresia Rumthe lahir pada tanggal 16 Oktober 1983 di Ambon.