Puisi: Tanah tak Bermusim (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Tanah tak Bermusim" karya Ariffin Noor Hasby menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan ...

Tanah tak Bermusim

Di tanah tak bermusim itu pabrik-pabrik mengucapkan
gelisah hutan
yang bertahun menyesatkan muara sungai
sampai kudapat kabar tentang rumah-rumah perahu
letih menunggu janji-janji percakapanmu
tapi kota-kota yang menderaskan hujan polusi
tak habis menggenapkan warna darah matahari

Di tanah tak bermusim itu kaukah yang memindah batas
hutan-hutan yang mabuk gelisah
sebelum nyanyian langit mengeruhkan airmataku
o, betapa letih tanah moyang kita
menggambarkan ingatan hutan berabad ketakutan
pada pohon-pohon yang disihir jadi baja dan beton

Banjarbaru, Oktober 1992

Sumber: Kota yang Bersiul (Tuas Media, Kertak Hanyar, 2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Tanah tak Bermusim" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang sarat kritik terhadap kerusakan lingkungan dan dampak pembangunan yang tidak berkelanjutan. Dengan memanfaatkan simbol-simbol alam seperti hutan, sungai, langit, dan tanah, penyair menggambarkan perubahan besar yang menghilangkan keseimbangan antara manusia dan alam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, dan hilangnya keseimbangan antara manusia dengan alam. Selain itu, puisi ini mengangkat tema tentang pengkhianatan terhadap warisan leluhur serta dampak modernisasi yang mengubah wajah bumi.

Puisi ini bercerita tentang sebuah negeri yang disebut sebagai "tanah tak bermusim", sebuah simbol tempat yang telah kehilangan keteraturan alam akibat ulah manusia. Di wilayah tersebut, pabrik-pabrik berdiri menggantikan hutan, sungai kehilangan arah, dan rumah-rumah perahu menjadi saksi atas janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Penyair mempertanyakan siapa yang telah mengubah batas-batas hutan sehingga alam kehilangan keseimbangannya. Hutan yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi kawasan industri, sementara pohon-pohon ditebang dan digantikan oleh baja serta beton. Pada akhirnya, penyair memperlihatkan bahwa tanah warisan leluhur kini menyimpan keletihan dan ketakutan akibat kerusakan yang terus berlangsung.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan. Istilah "tanah tak bermusim" melambangkan dunia yang telah kehilangan siklus alaminya karena eksploitasi yang berlebihan.

Pabrik, polusi, baja, dan beton menjadi simbol kemajuan yang justru mengorbankan hutan, sungai, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam. Penyair juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan sejarah dan identitas, karena tanah moyang yang diwariskan kepada generasi sekarang telah kehilangan jati dirinya.

Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa ketika alam rusak, manusia sebenarnya sedang merusak masa depannya sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jagalah kelestarian alam sebagai warisan bagi generasi mendatang.
  • Pembangunan hendaknya dilakukan tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
  • Jangan melupakan hubungan manusia dengan alam dan tanah leluhur.
  • Keserakahan terhadap sumber daya alam hanya akan membawa penderitaan bagi kehidupan di masa depan.
  • Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi agar tetap menjadi tempat hidup yang layak.

Imaji

Puisi ini memanfaatkan berbagai jenis imaji untuk memperkuat suasana dan makna, di antaranya:
  • Imaji visual, tampak pada gambaran pabrik, hutan, sungai, rumah-rumah perahu, kota, hujan polusi, pohon, baja, dan beton yang menghadirkan kontras antara alam dan pembangunan.
  • Imaji pendengaran, terlihat pada ungkapan "pabrik-pabrik mengucapkan gelisah hutan" dan "nyanyian langit" yang menghadirkan kesan bunyi secara simbolis.
  • Imaji gerak, tampak pada kata-kata menyesatkan, menderaskan, memindah, dan menggambarkan yang memberi dinamika pada puisi.

Majas

Puisi ini menggunakan berbagai majas yang memperkuat daya ungkapnya, antara lain:
  • Personifikasi, tampak pada ungkapan "pabrik-pabrik mengucapkan gelisah hutan", "rumah-rumah perahu letih menunggu", "kota-kota menderaskan hujan polusi", dan "nyanyian langit" yang memberikan sifat manusia kepada benda maupun unsur alam.
  • Metafora, terlihat pada frasa "tanah tak bermusim" sebagai lambang rusaknya keseimbangan alam dan kehidupan.
  • Simbolisme, melalui penggunaan tanah, musim, hutan, sungai, matahari, baja, dan beton sebagai simbol kehidupan, keseimbangan ekologis, modernisasi, serta eksploitasi alam.
  • Retorika, tampak pada pertanyaan "kaukah yang memindah batas hutan-hutan" yang bertujuan menggugah kesadaran pembaca, bukan meminta jawaban.
  • Hiperbola, terlihat pada ungkapan "hutan berabad ketakutan" yang memperkuat kesan penderitaan alam akibat ulah manusia.
  • Paradoks, tampak pada kontras antara pembangunan yang dianggap membawa kemajuan dengan kenyataan bahwa pembangunan tersebut justru menghancurkan alam sebagai sumber kehidupan.
Puisi "Tanah tak Bermusim" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi kritik lingkungan yang kuat dan reflektif. Melalui simbol-simbol alam yang kaya makna, penyair memperlihatkan bagaimana pembangunan yang tidak terkendali telah mengubah hutan menjadi kawasan industri, mencemari sungai, dan menghilangkan keseimbangan alam. Di balik kritik tersebut, puisi ini juga mengingatkan bahwa tanah leluhur adalah warisan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Dengan bahasa yang puitis dan penuh simbolisme, karya ini mengajak pembaca membangun kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam demi keberlangsungan kehidupan.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Tanah tak Bermusim
Karya: Ariffin Noor Hasby

  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.