Riwayat Penanjak Bukit Hantanung
Telah tercucur peluh dan simbah darah
menjadi pertanda di prasasti batu
dan menjelma legenda di jejakku
embun membasuh lelah dan penat
setelah seharian lereng ditanjaki
berdekap batu dan salam pepohonan
Di puncak bukit hantanung
di keluasan dada rimba dan lapang belantara
menyekap perih pandanganku terhadap
pabrik-pabrik dan perusahaan pembongkar tanah
semenjak rahim bumi dirampas keperawanannya
truk-truk silih berganti melalu lalangi jalan berbatu
selama itu pula debu setia mencumbui dadaunan
menyesakkan dengus nafas anak cucu di hunjur gunung
Dari kedalaman kaki bukit hantanung
kutengadahi dalam pejam saksama
liukan Sungai Balangan dan Batu Piring
kian terhimpit dan tersekat kota-kota di sampingnya
mencoba menggeser tiap-tiap ujung tanah,
perlahan dan pasti
entah sudah berapa jejak penanjak bertaut di
punggungmu Hantanung
yang menyaksikan keganasan perebutan alam
yang dicakari peradaban
Sumber: Banjarmasin Post (4 Februari 2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Riwayat Penanjak Bukit Hantanung" karya Fahmi Wahid merupakan puisi bertema lingkungan yang memadukan pengalaman mendaki dengan kritik terhadap eksploitasi alam. Penyair menjadikan Bukit Hantanung bukan sekadar lokasi geografis, tetapi simbol keteguhan alam yang menjadi saksi perubahan zaman. Melalui sudut pandang seorang penanjak, puisi ini menghadirkan kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri dan pembangunan yang mengabaikan kelestarian alam.
Alam dipersonifikasikan sebagai makhluk hidup yang memiliki tubuh, rahim, dan martabat, sehingga pembaca dapat merasakan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar perubahan bentang alam, melainkan juga luka yang dialami bumi. Puisi ini menjadi refleksi tentang hubungan manusia dengan alam sekaligus peringatan agar pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepedulian terhadap kelestarian alam serta kritik terhadap eksploitasi lingkungan oleh manusia. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
- Perjuangan menjaga alam.
- Kerusakan lingkungan akibat industrialisasi.
- Hubungan manusia dengan alam.
- Kenangan dan perjalanan seorang penanjak.
- Tanggung jawab antargenerasi terhadap bumi.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang penanjak yang menempuh perjalanan menuju Bukit Hantanung. Perjalanan tersebut dipenuhi peluh, kelelahan, dan pengorbanan yang kemudian menjadi bagian dari jejak sejarahnya.
Sesampainya di puncak, penyair tidak hanya menikmati keindahan alam. Ia justru menyaksikan pemandangan yang menyedihkan: hadirnya pabrik-pabrik, perusahaan tambang, dan aktivitas pembongkaran tanah yang merusak keseimbangan alam. Debu yang beterbangan, lalu lintas truk, dan perubahan bentang alam menjadi bukti bahwa bumi sedang mengalami luka akibat eksploitasi manusia.
Dari kaki bukit, penyair kembali memandang Sungai Balangan dan Batu Piring yang semakin terhimpit oleh perkembangan kota. Ia menyadari bahwa Bukit Hantanung telah lama menjadi saksi perebutan alam oleh peradaban modern. Melalui pengamatan tersebut, penyair mengajak pembaca merenungkan harga yang harus dibayar ketika pembangunan dilakukan tanpa menjaga kelestarian lingkungan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kelestarian alam karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merugikan manusia sendiri. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Alam menyimpan sejarah perjuangan yang patut dihormati.
- Eksploitasi sumber daya alam meninggalkan luka yang sulit dipulihkan.
- Pembangunan harus memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan ekosistem.
- Alam bukan sekadar objek ekonomi, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
- Generasi mendatang berhak mewarisi lingkungan yang sehat dan lestari.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jagalah kelestarian alam sebagai warisan bagi generasi mendatang.
- Jangan mengejar keuntungan ekonomi dengan merusak lingkungan.
- Hargailah alam karena manusia hidup bergantung padanya.
- Pembangunan harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
- Jadilah pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan bumi dan ekosistemnya.
Puisi "Riwayat Penanjak Bukit Hantanung" karya Fahmi Wahid merupakan puisi yang memadukan pengalaman mendaki dengan kritik ekologis terhadap eksploitasi alam. Melalui sudut pandang seorang penanjak, penyair menunjukkan bahwa keindahan alam kini semakin terancam oleh aktivitas industri, pertambangan, dan perkembangan kota yang tidak terkendali.
Puisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban seharusnya tidak dibangun dengan mengorbankan alam, karena bumi bukan sekadar sumber daya, melainkan rumah bersama yang harus dijaga demi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang.
Karya: Fahmi Wahid
Biodata Fahmi Wahid:
- Fahmi Wahid lahir pada tanggal 3 Agustus 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.