Puisi: Ziarah Tanah Leluhur (Karya Fahmi Wahid)

Puisi "Ziarah Tanah Leluhur" karya Fahmi Wahid menjadi pengingat bahwa sebuah bangsa akan tetap kokoh apabila akar sejarah dan budayanya terus ...

Ziarah Tanah Leluhur

Belajarlah menanam jejak sejarah pada tanah kubur moyangmu
agar mewarisi kemahiran bapakmu memetik senar panting
dan ritmis gerak lenggok baksa kambang bundamu
yang kini tak dapat lagi kunikmati senandungnya
di bantaran sepanjang sungai antara debur luka-luka hari
yang terus mengurai kebusukan kota
Lepaskanlah terompah telapakmu, lalu susuri tiap relief riwayatmu
yang diranggasi semak tagah ilalang dan pertapaan batu berlumut
di kelabat cendawan dan rumputan,
singkaplah rimbun cabang dedaunan itu
mungkin sepasang telapak leluhurmu masih tertatah
ditumbuhi kembang parwangi
menyebarkan harum di ladang huma nan sarunai

Ingatlah,
anak-cucuku berdarah Banjar
di tanah hulu aku kembali,
di sungai kuala aku menderas menjelma sejarah
yang diseret ganas temali serapah!

Balangan, 2015

Sumber: Suara Orang Pedalaman (Tahura Media, 2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Ziarah Tanah Leluhur" karya Fahmi Wahid merupakan puisi yang sarat dengan nilai sejarah, budaya, dan identitas. Melalui ajakan untuk menziarahi tanah leluhur, penyair mengingatkan pentingnya mengenal asal-usul, menghormati warisan budaya, serta menjaga jati diri di tengah perubahan zaman. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang ziarah dalam arti fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk memahami akar sejarah dan kebudayaan yang membentuk kehidupan suatu masyarakat.

Kekuatan puisi ini terletak pada penggunaan simbol-simbol budaya Banjar, seperti panting, baksa kambang, sungai, huma, hingga tanah hulu dan kuala. Unsur-unsur tersebut membangun suasana yang kental dengan identitas lokal sekaligus menyampaikan kritik terhadap lunturnya ingatan sejarah akibat modernisasi dan perubahan sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pelestarian sejarah, budaya, dan identitas leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • Penghormatan kepada leluhur.
  • Kearifan lokal masyarakat Banjar.
  • Pentingnya menjaga warisan budaya.
  • Hubungan manusia dengan tanah kelahiran.
  • Kritik terhadap lunturnya nilai-nilai tradisi.
Puisi ini bercerita tentang ajakan untuk kembali mengenali jejak sejarah yang ditinggalkan para leluhur. Penyair mengajak generasi penerus agar tidak melupakan tanah kubur moyang, karena di sanalah tersimpan warisan kehidupan, keterampilan, seni, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Penyair mengenang kemampuan sang ayah memainkan alat musik panting dan kelembutan sang ibu melalui tarian Baksa Kambang. Namun, keindahan budaya tersebut perlahan memudar di tengah perubahan zaman dan kehidupan kota yang digambarkan semakin dipenuhi berbagai persoalan.

Selanjutnya, pembaca diajak menyusuri kembali jejak sejarah yang mulai tertutup semak, lumut, dan ilalang. Perjalanan itu menjadi simbol pencarian jati diri. Pada bagian akhir, penyair menegaskan identitasnya sebagai keturunan Banjar yang akan selalu kembali kepada tanah asalnya. Dari hulu hingga muara sungai, sejarah terus mengalir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sebuah bangsa akan kehilangan identitas apabila melupakan sejarah, budaya, dan warisan para leluhurnya. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Mengenal sejarah merupakan cara memahami jati diri.
  • Tradisi dan kesenian daerah adalah kekayaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
  • Alam dan budaya memiliki hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat.
  • Modernisasi tidak seharusnya menghapus nilai-nilai budaya lokal.
  • Leluhur tetap hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan kepada anak cucunya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Kenalilah sejarah dan asal-usul keluarga maupun daerahmu.
  • Hormatilah jasa para leluhur yang telah mewariskan budaya dan kehidupan.
  • Lestarikan seni, tradisi, dan kearifan lokal agar tidak punah.
  • Jangan biarkan modernisasi menghapus identitas budaya.
  • Banggalah terhadap warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Puisi "Ziarah Tanah Leluhur" karya Fahmi Wahid merupakan puisi yang mengajak pembaca melakukan perjalanan batin untuk mengenali sejarah, budaya, dan identitas leluhur. Melalui simbol-simbol budaya Banjar serta lanskap alam Kalimantan, penyair menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk jati diri generasi sekarang.

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa mengenang leluhur bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga arah masa depan. Karya ini menjadi pengingat bahwa sebuah bangsa akan tetap kokoh apabila akar sejarah dan budayanya terus dirawat serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Fahmi Wahid
Puisi: Ziarah Tanah Leluhur
Karya: Fahmi Wahid

Biodata Fahmi Wahid:
  • Fahmi Wahid lahir pada tanggal 3 Agustus 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.