Puisi: Menantimu di Pinggir Kolam (Karya Moh. Wan Anwar) Menantimu di Pinggir Kolam menantimu di sini, di belantara kota di pinggir kolam yang tanpa teratai air mancur mengguyuri nasib kita udara yang kelam…
Puisi: Seribu Kaca (Karya Beni Setia) Seribu Kaca seribu kaca mengacakan wajah mata (yang satu api, yang satu air) mengekalkan sayap waktu. Langit lengkung terkadang kami menaiki tiang bu…
Puisi: Air Mancur (Karya Sanusi Pane) Air Mancur Air mancur jatuh kuat keras, Berdebar deru ke atas batu, Bersimbah buih putih selalu, Mengalir…
Puisi: Sendhang Kapit Pancuran (Karya Gunawan Maryanto) Sendhang Kapit Pancuran akulah sendang itu di mana waktu bersembunyi sedang dua pancuran itu adalah saudaraku —kakak dan adik kandung…
Puisi: Pantun Air Mancur (Karya Ajip Rosidi) Pantun Air Mancur Air mancur di jalan Thamrin tempat mandi anak jalanan; Takkan keliru dengan yang lain kalau denganmu ber…
Puisi: Di Alun-Alun (Karya Acep Zamzam Noor) Di Alun-Alun Di alun-alun tak bernama ini Air mancur terus berjaga Khusyuk, membaca ujung jam Menggiring senja ke sudut Yang remang Di lengkung langi…
Puisi: Fontana Maggiore (Karya Acep Zamzam Noor) Fontana Maggiore Tiba-tiba tubuhmu penuh hujan Seperti patung di tengah air mancur itu Dan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daun …
Puisi: Surat Batu (Karya Joko Pinurbo) Surat Batu Maaf, baru sekarang aku membalas surat yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu. Waktu itu kamu memintaku merawat sebuah batu be…