Puisi: Alun-Alun Asal Kelakon (Karya Sam Haidy) Alun-Alun (Asal Kelakon) Dua pergumulan singkat Dan aku pun terjerat! Di batik kepalamu aku tersungkur Di pelik pesonamu aku terbujur. …
Puisi: Tak Mengapa dengan Mimpi (Karya A. Munandar) Tak Mengapa dengan Mimpi Tak bernyawa suara ini Tak bertali kenangan itu Dari di mana aku mencari Sampai ke mana aku menunggu. …
Puisi: Barangkali Diam Adalah yang Paling Baik (Karya Bakdi Soemanto) Barangkali Diam Adalah yang Paling Baik Barangkali diam adalah yang paling baik Diam dan menyaksikan semuanya. Diam. Selama ti…
Puisi: Taman Argasoka (Karya Fitri Yani) Taman Argasoka : hari-hari penantian Sita menunggumu di taman ini aku seperti bunga yang bertahan sendiri di setiap musim tapi mengapa, b…
Puisi: Berapa Kali Kita Kehilangan dalam Menanti (Karya Beni Setia) Berapa Kali Kita Kehilangan dalam Menanti Berapa kali kita kehilangan dalam menanti jam berdetik, angin menghembus dan debu menyerbu jendela…
Puisi: Senja di Citayam (Karya Asep S. Sambodja) Senja di Citayam perjalanan semakin terasa jauh saat tubuh kian rapuh apa sebaiknya menunggu? tidak, tidak, menunggu adalah pekerjaan paling tolol ya…
Puisi: Malam Minggu (Karya Joko Pinurbo) Malam Minggu Malam minggu, malam para jomblo, malam para penunggu. Pengembara muda duduk gelisah di ber…
Puisi: Menunggu Ramadhan (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa) Menunggu Ramadhan Kutunggu hadirmu serupa lelaki yang lama menunggu kekasihnya di stasiun kota. Di tengah gegap…
Puisi: Sampai Kapan? (Karya A. Munandar) Sampai Kapan? Sampai kapan kau akan menunggu? Bertahan dengan doa, dengan senyuman pilu. Karena siapa tahu dia juga sedang menunggu. Jadi sa…
Puisi: Kita Tidak Sedang Menunggu (Karya Beni Setia) Kita Tidak Sedang Menunggu Kita tidak sedang menunggu. Lepas dari kefanaan dan meluncur masuk keabadian. Mesk…
Puisi: Menunggu (Karya Avianti Armand) Menunggu Dari balik tikungan muncul tiranosaurus "Tahukah kamu jalan menuju museum ?" "Ya. Ya. Ya." Anak itu men…
Puisi: Serenada Hijau (Karya W.S. Rendra) Serenada Hijau Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Bila bulan menegurkan salam dan syahdu malam bergantung di dahan-dahan. …
Puisi: Terhimpit Ragu (Karya A. Munandar) Terhimpit Ragu Kau terhempas dari duniaku atau aku yang terbuang dari duniamu? Kau terkurung di duniamu atau aku y…
Puisi: Menunggu Itu (Karya Taufiq Ismail) Menunggu Itu Menunggu itu sepi Menunggu itu puisi Menunggu itu ngeri Menunggu itu begini: Sebuah setasiun kereta-api Di negeri sunyi Malam yang berdi…
Puisi: Menantimu di Pinggir Kolam (Karya Moh. Wan Anwar) Menantimu di Pinggir Kolam menantimu di sini, di belantara kota di pinggir kolam yang tanpa teratai air mancur mengguyuri nasib kita udara yang kelam…