Puisi: Jiwa yang Layu (Karya Laeli Nurfadilah) Jiwa yang Layu Sambutan hangat sang mentari Memberi beribu-ribu harap tanpa henti Atas kekecewaan yang berujung lara Menuai derita dan nestapa Segela…
Puisi: Gamelan Jiwa (Karya Acep Zamzam Noor) Gamelan Jiwa Gamelan jiwa Menabuh pupuh sunyi Lewat getar pesona Semesta diri Gamelan jiwa Sunyi dalam semadi Lewat alun kinanti Lewat nada pekerti G…
Puisi: Langkah-Jiwa-Sunyi (Karya Sulaiman Juned) Langkah-Jiwa-Sunyi (I) Hujan membasahi alis bertengger indah di kening kekasih. Dara manis mengalunkan s…
Puisi: Getaran Jiwa (Karya Diah Hadaning) Getaran Jiwa seperti buana yang tak pernah melipat bentangnya seperti laut yang tak pernah menidurkan ombaknya ia berjalan sepanjang musim …
Puisi: Jiwa Bangsa yang Meronta (Karya Okto Son) Jiwa Bangsa yang Meronta Berbicaralah kepada dia...! Mengenai kerinduan bangsa ini! Mengenai keinginan-keinginan bangsa ini! Mengenai harapan bangsa …
Puisi: Jiwa Tiga Gunung (Karya Ahmadun Yosi Herfanda) Jiwa Tiga Gunung Jiwa tiga gunung mengental di Ciliwung Mengendapkan lumpur di tujuh kanal Dalam bahasa hujan, J.P. Coen berkata, "Akan kutegakk…
Puisi: Hamlet (Karya Ajip Rosidi) Hamlet Yang was-was selalu, itulah aku Yang gamang selalu, akulah itu Ya Hamlet kusuka: Dialah gambaran jiwaku yang selalu was-was dalam ra…
Puisi: Mata Jiwa (Karya Kurnia Effendi) Mata Jiwa - untuk Tiara Widjanarko dan Andhika Sastra Di bawah tudung langit Kalian ibarat samudera Yang mempertemukan dua kutub Di mata kasih Tuhan …
Puisi: Pohon Jiwa (Karya Zainal Arifin Thoha) Pohon Jiwa Tiada hanya siang, malam inipun daun-daun Tasbihku berguguran, ngelumpruk berserakan Di pertamanan. Kota makin ramai, para kelelahan Para …
Puisi: Biarkanlah Jiwamu Berlibur Hei Penyair (Karya Wiji Thukul) Biarkanlah Jiwamu Berlibur Hei Penyair lupakanlah itu para kritikus sastra! biarkanlah jiwamu berlibur hei penyair segarkanlah paru-paru dengan pema…
Puisi: Tarian Jiwa (Karya Weni Suryandari) Tarian Jiwa Tak ada pelangi berpendar di mataku Sedang gemuruh ombak penuhi dada Aku hilang tiang, percakapan melayang Layar terkoyak, sampan tenggel…
Puisi: Ampun, Jiwaku! (Karya Kahlil Gibran) Ampun, Jiwaku! Mengapa menangis, Jiwaku? Kaudapatikah kelemahanku? Air matamu pedih melukai hati, Sebab kesalahan tidak kusadari. Sampai kapan engkau…
Puisi: Mata Tak Menanti (Karya A. Munandar) Mata Tak Menanti Mata tak menanti pada sisi kata itu. Jiwa tak bertali pada hati mati itu. Tapi hanya tapi maka hanya ma…
Puisi: Dua Jiwa Disatukan Semesta (Karya Wayan Jengki Sunarta) Dua Jiwa Disatukan Semesta cahaya senja menyepuh pepucuk pohon cempaka bayangmu merekah di ubun-ubunku kau tiba dari tiada …