Postingan

Puisi: Seandainya Waktu Lebih Panjang (Karya Maskirbi)

Seandainya Waktu Lebih Panjang Telah kuhitung jumlah nafas Bersama degup jantung Sudah jauh mengayuh langkah Tapi, masih teras…

Puisi: Sebuah Peta Buta (Karya Abdul Wachid B. S.)

Sebuah Peta Buta Masih terkenang masa kanak kau aku mempelajari sebuah peta buta hanya ada pulau-pulau kota…

Puisi: Yang Bertanya dalam Malam (Karya Abdul Wachid B. S.)

Yang Bertanya dalam Malam berkali lagikah mesti kujeritkan namamu agar memancar wajahmu dari hadapan dan o,…

Puisi: Kepada Gus Dur (Karya Gunoto Saparie)

Kepada Gus Dur mendadak kau datang sendiri di jalan pandanaran ii/10 semarang*) mengucapkan salam dan bercerita tentang demokrasi sehabis …

Puisi: Surat pada Mei (Karya Rini Intama)

Surat pada Mei ketika bertanya pada Mei, purnama menungguku di tengah bulan yang tertebas, lantas menangis kau palingkan wajah dan sudut mata mengerl…

Puisi: Musium (Karya Frans Nadjira)

Musium Pada rak ke dua Lemari museum terletak tengkorak. Jalan menganga di mata lobang hidung. Burung-burung bersarang da…

Puisi: Pelabuhan Kabut (Karya Frans Nadjira)

Pelabuhan Kabut Ketika kau pergi berselubung gerimis Jembatan menyaksikan samudera kabut pergi …

Puisi: Upacara XXXVII (Karya Umbu Landu Paranggi)

Upacara XXXVII lepaslah rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi lelehan debu       tegalan kalbu            rayau waluku (jam-jam pasir di waktu air…

Puisi: Paku di Jalan Kehidupan (Karya Okto Son)

Paku di Jalan Kehidupan Jalan itu tertabur paku Namun jalan itu ada lagunya Ada harunya Ada sendunya         Mulutku terjahit         Ketika berada d…
© Sepenuhnya. All rights reserved.