Puisi: Ketika Aku Hidup dalam Perut Ibuku (Karya Wowok Hesti Prabowo) Ketika Aku Hidup dalam Perut Ibuku ah, betapa indah isi perut ibu aku senang bisa nakal dalam kasihnya betapa tidak nafas ibu adalah nafasku darah ib…
Puisi: Menggali Luka (Karya Widodo Arumdono) Menggali Luka Kugali luka dari lubang dunia "ke mana amis nafas mengirim beritanya ketika hati bumi menguakkan ozon jingga ke wajah langit matah…
Puisi: Seperti Boneka (Karya Wowok Hesti Prabowo) Seperti Boneka di sini kami seperti boneka, adikku dibuang pemiliknya dalam apungan sampah meriuhkan kemacetan sungai kami mimpi pesta saat laut suru…
Puisi: Belajar pada Laut Sunyi (Karya Widodo Arumdono) Belajar pada Laut Sunyi belajar pada laut sunyi-mu kesadaran terbangun mengubur segala mati di angkasa sepi di sepi kediaman-mu kusiangi rawa-rawa ke…
Puisi: Sungai Musi (Karya W.S. Rendra) Sungai Musi Memasuki sungai Musi 'ku ulurkan tanganku pada alam. Melewati jalan yang baru bagai menempuh jalan yang sangat 'ku kenal…
Puisi: Ada yang Tak Kunjung Usai (Karya Nurhayat Arif Permana) Ada yang Tak Kunjung Usai ada yang tak kunjung usai kau ceritakan bagaimana pasir menyerap buih yang dipendarkan ombak dengan tabah dan amat ikhlas l…
Puisi: Senandung Muram Buruh Malam (Karya Husnul Khuluqi) Senandung Muram Buruh Malam telah kulayari malam-malamku yang muram malam tanpa cahaya bebintang tanpa senyum wajah bulan kuhitung setiap derai ti…
Puisi: Musim Panas (Karya Wowok Hesti Prabowo) Musim Panas Musim panas. Orang-orang menanggalkan bajunya Mengairi sawah dengan keringatnya Musim panas. Batu-batu retak Ibu merebusnya dengan air ma…
Puisi: Kwatrin Penyair (Karya Widodo Arumdono) Kwatrin Penyair bagi: H.B Jassin sepedang jiwa menyalang di langit sunyi ikhwal merobek kerajaan sepi di halaman kalam Illahi terasa hidup belum usai…