Puisi: Duri dalam Kopi (Karya Esha Tegar Putra) Duri dalam Kopi masokhis . sebut aku duri dan kau akan menemukanku sebagai lelaki tanpa mata hati, lelaki di gulungan ombak lelaki yang bers…
Puisi: Perempuan dalam Secangkir Kopi (Karya Kurniawan Junaedhie) Perempuan dalam Secangkir Kopi (1) (Saat ngopi bersama Kurnia Effendi & Tina ketika ultah Endah Sulwesi di Jl. Sabang) Perempuan itu hilang dari…
Puisi: Segelas Kopi (Karya Sholihul Mubarok) Segelas Kopi Segelas kopi ini lebih dulu kuseduh sebelum langit terjatuh. Pekatnya sukar diterjemahkan, melebihi mendung menautkan sajak-sajak berkab…
Puisi: Merengkuh Ingatan (Karya Ronald Suwardi) Merengkuh Ingatan Jika jalan pulang ke rumah adalah jalan yang menyenangkan bagimu, lantas kapan kau beranjak pulang dan singgah sebentar di sini, ru…
Puisi: Kata-Kata yang Berenang dalam Air Kopi (Karya Kurniawan Junaedhie) Kata-Kata yang Berenang dalam Air Kopi Ketika mengaduk kopinya, seorang lelaki tua berteriak dan bersungut-sungut. Ada kata-kata berenang …
Puisi: Hati Jogja (Karya Joko Pinurbo) Hati Jogja Dalam secangkir teh ada hati Jogja yang lembut meleleh. Dalam secangkir kopi ada hati Jogja yang alon-alon waton hepi. Dalam …
Puisi: Ini Kopi Terakhir (Karya Anwar Putra Bayu) Ini Kopi Terakhir Ketegangan diam-diam larut ke dalam cangkir-cangkir kopi semendo "ini kopi terakhir" kataku memecahkan alunan Bujang Bunt…
Puisi: Aku Menemukanmu (Karya Wayan Jengki Sunarta) Aku Menemukanmu aku menemukanmu o, saudara masa lalu yang lahir kembali di kebun-kebun kopi siapa menujum ruhmu jadi bongkah-bongkah …
Puisi: Segelas Kopi Bertiga (Karya Ummi Sulis) Segelas Kopi Bertiga Cuaca baru saja terang Setelah pongahnya menghantam pagi Mencuci debu-debu menempel di dedaunan Segelas kopi terhidang Untuk ber…
Puisi: Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera (Karya Diah Hadaning) Balada Seorang Lelaki Tua Penjual Bendera Ingatan tentang merdeka, nang masih mengental di kopi pahit kian ha…
Puisi: Secangkir Kopi (Karya Aris Setiyanto) Secangkir Kopi secangkir kopi yang mengepul di mataku telah meledakkan jantungku aku semestinya tidur lelap tapi kematian tak berlangsung dengan muda…
Puisi: Waktu yang Sehitam Dedak Kopi (Karya Acep Zamzam Noor) Waktu yang Sehitam Dedak Kopi Waktu yang sehitam dedak kopi di gelasmu itu Adalah sepi. Tahun-tahun merayap pelahan Dari hutan yang terbakar…
Puisi: Litani Terima Kasih (Karya Joko Pinurbo) Litani Terima Kasih Hati hujan yang menenangkan Terima kasih Mata malam yang meneduhkan Terima kasih Bibir kopi yang menghangatkan Ter…
Puisi: Lubang Kopi (Karya Joko Pinurbo) Lubang Kopi Jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi lampu tidur di matanya menyala kembali. Hujan tinggal bekas dan kopi sudah menjadi miras…