Puisi: Waktu yang Sehitam Dedak Kopi (Karya Acep Zamzam Noor) Waktu yang Sehitam Dedak Kopi Waktu yang sehitam dedak kopi di gelasmu itu Adalah sepi. Tahun-tahun merayap pelahan Dari hutan yang terbakar…
Puisi: Jalan Sendiri (Karya Remy Sylado) Jalan Sendiri Aku ingin tersesat di jalan yang berulang kulalui sendiri sejak usia teruna siapa nyana datang kereta penjemput membawa atma…
Puisi: Pada Jembatan Berbatu (Karya Cucuk Espe) Pada Jembatan Berbatu Jalan itu menikung dan berbatu Padahal hujan baru saja berlalu Bias embun seperti cer…
Puisi: Seperti dalam Film Lama (Karya Goenawan Mohamad) Seperti dalam Film Lama Seperti dalam film lama kota pun terbelah besi trem terendam dalam kabut. Hanya ada sisa hingar sebentar d…
Puisi: Bening Matamu (Karya Sulaiman Juned) Bening Matamu Simpan berjuta rahasia di balik indahnya bola mata coba kuakkan berlaksa gita dari sana. Jangan ragu suatu saat bulan ce…
Puisi: Tentang Tragedi (Karya Iman Budhi Santosa) Tentang Tragedi Orang-Orang yang Menggantung di Pedalaman W onosari Dengan seutas tali ia membuang sisa kata dari lidahnya. Menyerahkan leher terjera…
Puisi: Ya Allah Jadikan Hamba (Karya L.K. Ara) Ya Allah Jadikan Hamba ya Allah jadikan hamba angin Madinah agar dapat menggapai puncak mesjid Nabawi ya Allah jadikan hamba geri…
Puisi: H (Karya Acep Zamzam Noor) H (Dari yang tak terungkapkan Kuawali kisah ini Lalu pada guguran daun, pada tanah basah Akan kulukiskan s…
Puisi: Orang Indonesia Kontemporer (Karya Binhad Nurrohmat) Orang Indonesia Kontemporer Orang Indonesia tak gentar hidup sengsara Orang Indonesia harus irit dan rajin puasa Orang Indonesia t…