Puisi Ali Akbar Navis

Puisi: Perjalanan (Karya A.A. Navis)

Perjalanan Pada jalan raya berlumpur di balantara ujung dunia perjalanan ini bagai di terungku tak bisa lalu. Maka khayal berkisah seram bertalu deng…

Puisi: Terlepas (Karya A.A. Navis)

Terlepas Kalau dunia mulai dirasa hampa sinar mentari tidak lagi berwaktu tiba siang, malam, pagi dan petang tiada lagi yang dapat dirancang. Terkapa…

Puisi: Bias Perjalanan (Karya A.A. Navis)

Bias Perjalanan (Buat Rivai Yogi penyair "Perjalanan") Benarlah katamu, kawan bahwa, apa guna menghitung langkah yang tertinggal jadi jejak…

Puisi: Kembang Kertas (Karya A.A. Navis)

Kembang Kertas Kembang kertas dalam jambangan atas meja pualam ini akan selalu segar tanpa siraman bagai akan abadi. Tak perlu kupu pengisap sari tak…

Puisi: Terbuang-buang (Karya A.A. Navis)

Terbuang-buang Menyusuri jalan hidup ini yang gantung bergantung dengan siapa tiada yang lebih disebalkan jika nanti menanti yang tak pasti tanpa key…

Puisi: Sandiwara Kampungku (Karya A.A. Navis)

Sandiwara Kampungku (Kepada anggota DPR Sumatera Tengah) Setelah lampu ruangan padam layar dan tirai pun terbuka musik pengiring nyaring bergema gega…

Puisi: Kisah dalam Cerita Perjalanan (Karya A.A. Navis)

Kisah dalam Cerita Perjalanan Jika terdengar keluh penyerahannya menjalani — antara noktah langkah pertama sampai ke ujung gunung harapan — aku rasa,…

Puisi: Bila Kabut Berserakan (Karya A.A. Navis)

Bila Kabut Berserakan Akhirnya berserakan juga kabut yang menyungkup yang bertumpuk tertahan di ujung gunung berserakkan dihembus angin balau itu. Da…

Puisi: Ibu (Karya A.A. Navis)

Ibu Buat Ibu yang meninggal 2 Agustus 1952 Aku tahu, Ibu selagi kau telentang tak bergerak karena sakitmu lapar karena patah seleramu sakit dadamu se…

Puisi: Jembatan Hidup (Karya A.A. Navis)

Jembatan Hidup Pernah aku bangun jembatan yang megah, yang menawan. Tapi selalu rubuh, rubuh dan rubuh oleh hembusan nafas yang keruh dari semua dan …

Puisi: Keliru (Karya A.A. Navis)

Keliru Kau gantung tinggi lalu gapai-gapai tuntutan naluri beripuh mandi peluh menanti rubuh. Selama hayat pasti takkan tercapai walau melolong mulut…

Puisi: Jangan Harap (Karya A.A. Navis)

Jangan Harap Semanis mulut bicara kalau bukti tiada jangan harap orang akan percaya. sebaik baik budi kalau suka melanggar janji jangan harap orang a…

Puisi: Kenapa (Karya A.A. Navis)

Kenapa Tidakkah tuan dengar segala rintih keluh kesah suara serak oleh tangis sepanjang waktu? Tidakkah tuan lihat bangkai hidup tinggal kulit pembal…

Puisi: Dengan Rebab (Karya A.A. Navis)

Dengan Rebab (kepada seniman pura-pura) Dalam gegap gempita hari pasar kau gesek tali tegar rebabmu mendayu menusuk segala pikuk kau jelajah sampai y…

Puisi: Isi dan Kulit (Karya A.A. Navis)

Isi dan Kulit Terpandang kulit pisang di atas batu siang malam berdingin-berpanas menghitam rupa dimakan waktu tak dipandang insan yang melintas. Mar…

Puisi: Tanda Zaman (Karya A.A. Navis)

Tanda Zaman Sejak manusia berkarib dengan setan banyak duka berpulas suka jujur dan tulus dikutuk edan adab jadi lambang bencana. Maka anak jadi sain…
© Sepenuhnya. All rights reserved.