Puisi: Apa Guna (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Apa Guna" karya Wiji Thukul menggambarkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan penyair terhadap pemiskinan intelektual dan ketidakpedulian dalam ..
Apa Guna


Apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong

Di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah

Apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu.


Sumber: Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa (2017)

Analisis Puisi:
Puisi "Apa Guna" karya Wiji Thukul menggambarkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan penyair terhadap pemiskinan intelektual dan ketidakpedulian dalam masyarakat.

Ilmu yang Tidak Berguna: Puisi ini dimulai dengan pertanyaan, "Apa guna punya ilmu kalau hanya untuk mengibuli?" Ini menggambarkan ketidakpuasan penyair terhadap pemahaman ilmu yang sebatas untuk mengecoh atau merendahkan orang lain. Penyair mengkritik penggunaan ilmu yang tidak bermanfaat dan merasa bahwa ilmu harus digunakan untuk tujuan yang lebih mulia.

Kebisuan dan Ketidakpedulian: Puisi ini mencerminkan kebisuan sosial dan politik yang terjadi di sekitarnya. "Apa gunanya banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu" adalah ungkapan ketidakpedulian dalam menghadapi ketidakadilan dan penindasan. Penyair merasa bahwa banyak orang yang memiliki pengetahuan, tetapi diam dan tidak berbicara ketika mereka seharusnya mengambil tindakan.

Moncong Senjata dan Kongkalikong: Puisi ini menyebutkan tentang "moncong senjata" yang berdiri gagah dan "kongkalikong dengan kaum cukong." Ini mencerminkan kekuatan dan dominasi yang dipegang oleh segelintir orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Penyair merasa bahwa kekuatan ini digunakan untuk menguasai rakyat dan menguntungkan diri sendiri.

Penindasan di Desa-Desa: Penyair menggambarkan penindasan yang terjadi di desa-desa, di mana rakyat dipaksa untuk menjual tanah mereka dengan harga murah. Ini mencerminkan praktik-praktik eksploitatif yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkuasa terhadap masyarakat yang lebih lemah.

Panggilan untuk Bertindak: Puisi ini menggambarkan ketidakpuasan dan panggilan untuk bertindak. Penyair ingin melihat pengetahuan digunakan untuk memberikan suara kepada yang tidak memiliki suara dan untuk melawan ketidakadilan. Puisi ini mendorong pembaca untuk berbicara dan bertindak melawan ketidakpedulian dan penindasan.

Puisi "Apa Guna" adalah kritik tajam terhadap ketidakpedulian, pemiskinan intelektual, dan penindasan yang terjadi dalam masyarakat. Penyair menyuarakan kebutuhan akan penggunaan ilmu dan pengetahuan untuk tujuan yang lebih mulia, yaitu perjuangan melawan ketidakadilan. Puisi ini adalah panggilan untuk bertindak dan tidak diam dalam menghadapi ketidakpedulian sosial dan politik.
Wiji Thukul
Puisi: Apa Guna
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul (nama asli Wiji Widodo) lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di Solo, Jawa Tengah.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
© Sepenuhnya. All rights reserved.